Jakarta –Wakil Bupati Majene, Sulawesi Barat, Dr. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan Energy Leadership & Business Conference 2026: Empowering Leaders, Enabling Zero Emission, pada hari Jumat, (30/10/2026) di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo Gedung BJ Habibie BRIN Jalan Thamrin Jakarta Pusat. Menurutnya, konferensi tersebut memberikan banyak informasi penting dan wawasan baru bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi energi terbarukan di wilayah masing-masing.

Hal tersebut disampaikannya saat wawancara dengan awak media di sela-sela kegiatan konferensi. Ia menilai materi yang disampaikan sejumlah narasumber sangat informatif, terutama terkait arah kebijakan nasional, perkembangan teknologi energi, serta peluang pemanfaatan sumber daya alam sebagai energi alternatif.

“Menurut saya, apa yang disampaikan beberapa pembicara tadi sangat bagus dan informatif. Banyak sekali informasi yang kami dapatkan. Salah satu tujuan pemerintah daerah mengikuti kegiatan ini tentu untuk memperoleh pengetahuan yang nantinya bisa ditindaklanjuti di tingkat kabupaten,” ungkap Andi Ritamariani.

Ia menjelaskan, berbagai kebijakan dan program yang dipaparkan dalam konferensi masih berada pada tataran nasional. Karena itu, diperlukan regulasi serta langkah konkret agar kebijakan tersebut dapat diterjemahkan dan diimplementasikan sesuai dengan kondisi serta potensi masing-masing daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan panduan yang lebih terarah agar informasi dan gagasan yang diperoleh tidak berhenti sebatas wacana, tetapi dapat diwujudkan menjadi program nyata.

“Kami berharap ke depan pembahasan bisa lebih fokus pada persoalan tertentu sehingga peserta dari daerah lebih mudah memahami dan menentukan langkah tindak lanjut. Sebab, untuk menerapkan kebijakan nasional di tingkat kabupaten tentu membutuhkan regulasi dan koordinasi yang baik,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Andi Ritamariani juga memaparkan potensi sumber daya alam di Kabupaten Majene dan wilayah Sulawesi Barat. Ia menyebutkan bahwa potensi daerahnya antara lain sektor pertambangan pasir dan batu, sementara sejumlah potensi perkebunan, khususnya kelapa sawit, juga berkembang di beberapa kabupaten lain di Sulawesi Barat.

Ia menyoroti potensi perkebunan kelapa sawit yang tersebar di Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu. Menurutnya, pemanfaatan kelapa sawit tidak seharusnya hanya berorientasi pada hasil buah atau minyaknya, tetapi juga harus mencakup pengolahan cangkang dan limbah perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Menarik sekali, ternyata dari pembahasan tadi kita mendapatkan informasi bahwa bukan hanya buah sawit yang bisa dimanfaatkan, tetapi cangkang dan limbahnya juga memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber energi. Ini menjadi pengetahuan baru yang sangat bermanfaat bagi kami,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemanfaatan limbah perkebunan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk bahan pendukung pertanian seperti pupuk. Bahkan, produk turunan kelapa sawit ternyata memiliki beragam manfaat, tidak hanya untuk kebutuhan minyak rumah tangga, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan industri lainnya.

Andi Ritamariani berharap pengetahuan dan teknologi yang diperoleh melalui konferensi tersebut dapat membuka peluang peningkatan produktivitas perkebunan serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat, khususnya para petani.

Menurutnya, pengembangan potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang terencana, penerapan teknologi tepat guna, serta manajemen kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pelaku usaha, dan kelompok petani.

“Yang kita harapkan adalah bagaimana hasil dan kesimpulan dari pertemuan ini bisa ditindaklanjuti, termasuk disampaikan kepada Gubernur Sulawesi Barat untuk melihat seperti apa kebijakan yang bisa dilakukan. Karena ini berkaitan dengan kebijakan nasional, tentu perlu ada sinergi agar petani-petani kita juga bisa merasakan manfaatnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, peningkatan nilai ekonomi hasil perkebunan harus diikuti dengan edukasi kepada petani mengenai teknologi pengolahan dan peluang pemanfaatan hasil samping perkebunan. Dengan demikian, petani tidak hanya menjual hasil panen mentah, tetapi juga memiliki kesempatan memperoleh nilai tambah dari pengolahan limbah dan produk turunannya.

Lebih lanjut, ia menilai pengembangan energi terbarukan berbasis potensi daerah merupakan peluang strategis untuk mendorong pembangunan ekonomi sekaligus mendukung agenda transisi energi dan pengurangan emisi di Indonesia.

Menutup wawancaranya, Andi Ritamariani menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan Energy Leadership & Business Conference 2026. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut dan menjadi ruang berbagi informasi, memperkuat kolaborasi, serta meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan terhadap pentingnya pengembangan energi masa depan.

“Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah menginisiasi kegiatan ini. Mudah-mudahan konferensi seperti ini terus berkelanjutan sehingga informasi-informasi penting mengenai pengembangan energi Indonesia bisa terus disampaikan dan ditindaklanjuti, termasuk sampai ke daerah,” pungkasnya.

Melalui forum ini, diharapkan pemerintah daerah semakin mampu mengidentifikasi potensi sumber daya lokal, membangun kolaborasi lintas sektor, serta mendorong pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan energi bersih dan pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia yang lebih mandiri energi.