Kota Bekasi, – Semangat mengenang jasa para pejuang bangsa kembali digaungkan dalam kegiatan Doa dan Tabur Bunga atas Tragedi Perjuangan Sasak Kapuk. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk merawat ingatan sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus bangsa, Senin (17/8/2026).

Ketua Komisi III DPRD Kota Bekasi, H. Arif Rahman Hakim, S.H., dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan untuk kedua kalinya setelah pertama kali digelar pada 2025.

Menurut Arif, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga sejarah perjuangan masyarakat Bekasi agar tidak hilang ditelan zaman.

«“Ini adalah acara yang kedua kalinya kita adakan setelah 2025. Ini menjadi sebuah inspirasi bagi kita untuk terus menjaga sejarah, apalagi sejarah yang ada di Bekasi,” ujar Arif.»

Ia menegaskan, Tragedi Perjuangan Sasak Kapuk merupakan salah satu bagian sejarah heroik yang menunjukkan besarnya peran masyarakat Bekasi dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Arif menyebut perjuangan para pahlawan yang terlibat dalam peristiwa tersebut patut terus dikenang dan diwariskan kepada generasi muda. Semangat perjuangan tersebut, menurutnya, merupakan bukti bahwa masyarakat Bekasi memiliki andil dalam perjalanan panjang mempertahankan kemerdekaan bangsa.

“Kami sebagai warga Kaliabang, warga Pondok Ungu dan Medan Satria, Bekasi Utara, begitu bangga dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan ini harus terus ada, bahkan setelah kami yang sekarang sudah tidak ada, generasi-generasi bangsa berikutnya harus tetap mengadakan kegiatan ini,” katanya.

Dorong Pembangunan Monumen Sejarah

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan adanya rencana pembangunan monumen sejarah Tragedi Perjuangan Sasak Kapuk sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang sekaligus sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

Ia mengatakan, rencana penganggaran pembangunan monumen tersebut sebelumnya telah dibahas untuk 2026. Namun, pelaksanaannya harus ditunda karena adanya agenda pembangunan infrastruktur nasional, termasuk pembangunan MRT.

“Seharusnya memang sudah kita anggarkan di tahun 2026, tetapi karena ada kegiatan nasional, yaitu pembangunan MRT, kita tunda dulu. Setelah MRT terbangun, kita akan melihat kembali titik lokasi yang paling tepat untuk pembangunan monumen sejarah itu,” jelasnya.

Arif berharap pembangunan monumen tersebut dapat direalisasikan pada 2027, setelah pembangunan MRT selesai dan lokasi yang sesuai dapat ditentukan.

Menurutnya, keberadaan monumen bukan hanya sebagai simbol fisik, tetapi juga sebagai media pembelajaran sejarah yang dapat mempertemukan generasi muda dengan jejak perjuangan para pahlawan secara langsung.

“Kita berharap monumen ini 2027 sudah terbangun. Monumen ini menjadi salah satu bentuk untuk mengingatkan anak cucu kita bahwa pernah terjadi sejarah yang cukup hebat untuk Republik Indonesia,” ungkapnya.

Sejarah Harus Hadir di Tengah Generasi Muda

Arif menilai, pengenalan sejarah tidak cukup hanya dilakukan melalui buku, video maupun foto. Kehadiran situs dan monumen sejarah dinilai dapat memberikan pengalaman yang lebih nyata bagi generasi muda.

“Cerita dan sejarah ini jangan lagi hanya dilihat orang lewat video atau gambar, tetapi secara langsung mereka bisa melihat bagaimana heroiknya perjuangan para pejuang bangsa yang ada di Kota Bekasi,” tuturnya.

Ia berharap generasi penerus dapat mengikuti semangat para pendahulu dengan terus menjaga tradisi doa dan tabur bunga, khususnya setiap tanggal 17, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah mengorbankan tenaga dan pikiran demi kemerdekaan Indonesia.

“Harapannya, generasi penerus ini terus mengikuti jejak para senior agar kegiatan doa dan tabur bunga yang sering diadakan setiap tanggal 17 ini terus dilaksanakan,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik kemerdekaan yang dinikmati hari ini terdapat pengorbanan dan perjuangan masyarakat di berbagai daerah, termasuk masyarakat Bekasi.

Merawat sejarah berarti merawat jati diri bangsa. Mengenang para pejuang berarti memastikan semangat perjuangan mereka tetap hidup di tengah generasi penerus Indonesia.