(Diksiber ID) Momen Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, menjadi kesempatan bagi Jaringan Doa Nasional (JDN) untuk merefleksikan kembali perjalanan bangsa Indonesia selama setahun terakhir.
Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang sedang menghadapi pelbagai tantangan imbas dinamika global, JDN kembali menginisiasi kegiatan doa serentak bagi bangsa Indonesia dengan tajuk “KebangkitanDoa Nasional 2”. Doa serentak yang diikuti umat Kristen lintas denominasi ini dilangsungkan di 38 Provinsi, tersebar di 217 titik Kabupaten dan Kota serta di luar negeri, pada Rabu petang (20/5).
Fasilitator Umum Kebangkitan Doa Nasional 2 Pdt. Aristarkus Tarigan di sesi konferensi pers menuturkan ketidakpastian ekonomi, krisis moral, konflik bersenjata, bencana alam, dan pergumulan bangsa, menjadi pokok doa yang dibawakan selama kegiatan ini berlangsung.
Ia menambahkan, gerakan ini lahir dari kerinduan umat untuk kembali bersatu sehati, berseru bagi pemulihan gereja, kota-kota, serta bangsa Indonesia.
“Kata kuncinya adalah Kesatuan tubuh Kristus lintas kota, lintas denominasi, lintas komunitas, dan lintas generasi. JDN menyerukan bahwa Kebangkitan Doa Nasional ini bukan sebatas sebuah acara, tetapi, suatu gerakan rohani yang menghubungkan Indonesia melalui doa,” ujarnya.
Ketua Panitia Doa Nasional 2 Bryant Lucas Wong, di kesempatan itu pula memastikan sebanyak 500 peserta akan menghadiri kegiatan doa yang dipusatkan di Kelapa Gading Trade Center, dan disiarkan ke 217 titik melalui live streaming youtube.
“Kita percaya malam hari ini akan terjadi sesuatu yang baru yang belum pernah kita lihat. Dan kegerakan ini akan terus berlanjut sampai dengan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya,” ucap Bryant.
Keesaan gereja turut menjadi pokok doa yang dibawakan dalam Kebangkitan Doa Nasional 2. Fasilitator Nasional Bidang Mobilisasi JDN Ps. Festy Sarumaha mengungkap, kesatuan gereja adalah kunci bagi pemulihan suatu kota, kondisi ekonomi, hingga pemulihan generasi muda.
“Itu menjadi poin doa kita dalam rangkaian doa di kegiatan ini,” jelas Festy.
Keadaan Indonesia hari ini turut menjadi perenungan dari inisiator sekaligus penggerak Jaringan Doa Nasional, Pdt. Dr. Tony Mulia. Tony melayangkan kembali ingatannya kepada kondisi 22 tahun silam, di mana Indonesia pernah dihadapkan kepada situasi yang sangat berat.
“Saya teringat suatu momentum ya di tahun 2004, kita ada dalam keadaan krisis di waktu itu, krisis bencana alam yang tidak berkesudahan. Tsunami Aceh, tsunami Nias, lalu juga banyak bencana-bencana alam ekstrem yang terjadi,” kenang Tony.
Bahkan Tony mengungkap, ketika itu seorang hamba Tuhan pernah mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami masa suram jika situasi saat tidak segera membaik. Indonesia juga diprediksikan akan menjadi sebuah negara yang gagal.
“Tetapi pada tanggal 5, bulan 5, tahun 2005, kita mengadakan doa, National Prayer Conference. Dalam kebersamaan kita berdoa, dan puji Tuhan lewat doa dan kebersamaan itu Indonesia tetap menjadi Indonesia seperti saat ini,” jelasnya.
Pertaliannya dengan hari ini, lanjutnya, Indonesia seakan kembali mengalami peristiwa yang sama seperti di tahun 2004 silam. Namun Tony Mulia meyakini Indonesia akan mengalami pemulihan jika bangsa ini mau bersatu untuk berdoa dan melibatkan pertolongan Tuhan di dalam setiap langkahnya.
“Jadi melihat ini, saya percaya, kalau bukan karena Tuhan maka tidak ada yang mungkin. Kita menetapkan tanggal 20 Mei bukan sebuah kebetulan (dengan Harkitnas) bertepatan pula dengan Minggu Pentakosta di mana terjadi peristiwa pencurahan Roh Kudus. Dua puluh tahun yang lalu Tuhan meredam semua peristiwa buruk yang menimpa Indonesia. Semoga apa yang terjadi saat itu kembali terjadi di hari ini,” pungkas Tony Mulia.
