Jakarta, – Transformasi digital di sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya volume, kompleksitas, dan kebutuhan pengelolaan data peserta. pun terus mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas layanan, mempercepat analisis data, sekaligus mendukung pemerataan layanan kesehatan bagi peserta JKN, Kamis (13/8/2026).

Hal tersebut disampaikan Ivan Dolfinus Carlos, Asisten Deputi Analisis & Visualisasi Data Kedeputian Bidang Manajemen Data & Informasi BPJS Kesehatan, dalam paparannya mengenai pemanfaatan AI dan data dalam pengembangan ekosistem kesehatan digital.

Ivan menjelaskan, pengembangan berbagai produk digital di BPJS Kesehatan berangkat dari momentum transformasi digital yang berorientasi pada kebutuhan peserta.

“Selalu dalam pengembangan suatu produk di BPJS Kesehatan diawali dari momentum transformasi digital pada ekosistem pasien. Artinya, semuanya berpusat pada kepentingan dan kebutuhan peserta,” ujar Ivan.

Menurutnya, perkembangan transaksi pelayanan kesehatan di Indonesia menghasilkan volume data yang sangat besar. Setiap transaksi kesehatan dapat menghasilkan data yang kemudian masuk ke dalam sistem BPJS Kesehatan.

Kondisi tersebut membuat BPJS Kesehatan membutuhkan perangkat teknologi yang mampu mengolah jutaan data secara cepat dan akurat untuk menemukan pola, menghasilkan insight, serta memberikan manfaat strategis bagi peserta.

“Volume, lonjakan, dan kompleksitas data kesehatan pasien berkembang sangat pesat. Hampir setiap transaksi kesehatan di Indonesia menghasilkan data dalam jumlah besar. Karena itu kita membutuhkan perangkat yang mampu memilah dan menemukan pola dari jutaan data tersebut,” jelasnya.

AI Tingkatkan Kecepatan dan Ketepatan Analisis

Ivan menilai, pemanfaatan AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan manusia menjadi lebih efektif.

Banyaknya proses administrasi, verifikasi data peserta, hingga pengelolaan informasi kesehatan membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Dengan dukungan AI, pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang dapat dioptimalkan sehingga sumber daya manusia dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan analisis strategis.

“AI membantu bagaimana jutaan data dapat dianalisis secara lebih optimal. Dari hasil analisis tersebut dituntut adanya presisi dan kecepatan, sehingga kita bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih strategis,” katanya.

Menurut Ivan, penerapan AI diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas pengambilan keputusan berbasis data.

Tiga Fokus Pemanfaatan AI

Dalam pengembangan ekosistem digital, BPJS Kesehatan memanfaatkan AI setidaknya untuk meningkatkan user experience, menghasilkan insight dan prediksi, serta mengoptimalkan proses kerja.

Pada sisi pelayanan peserta, teknologi AI dikembangkan untuk memberikan pengalaman yang lebih mudah dan personal. Salah satunya melalui kanal digital seperti Mobile JKN, yang memungkinkan peserta memperoleh informasi tanpa harus selalu datang langsung ke kantor layanan atau menghubungi petugas.

AI juga dapat digunakan untuk melakukan personalisasi informasi berdasarkan profil dan kebutuhan peserta. Dengan pendekatan tersebut, informasi kesehatan yang ditampilkan dapat menjadi lebih relevan bagi masing-masing pengguna.

Selain itu, AI dapat membantu menghasilkan prediksi berdasarkan pola data. Misalnya, BPJS Kesehatan dapat melakukan analisis terhadap perilaku kepesertaan untuk mengidentifikasi peserta yang berpotensi mengalami perubahan status kepesertaan sehingga dapat diberikan informasi atau pengingat secara lebih tepat waktu.

“Pendekatannya lebih personal. Kita berusaha memberikan informasi yang relevan sesuai kebutuhan peserta,” tutur Ivan.

Perkuat Tata Kelola dan Perlindungan Data

Di tengah masifnya pemanfaatan AI, Ivan menekankan bahwa inovasi digital harus berjalan beriringan dengan perlindungan data pribadi dan tata kelola yang kuat.

Menurutnya, kepercayaan masyarakat menjadi fondasi utama dalam pengelolaan data kesehatan.

“Dalam mengadopsi inovasi, kita harus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. BPJS Kesehatan dipercaya untuk mengelola data peserta, sehingga privasi dan keamanan data harus benar-benar dijaga,” tegasnya.

Karena itu, penerapan AI harus memperhatikan aspek privasi data, etika, keamanan, interoperabilitas, serta kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pribadi.

Selain infrastruktur teknologi dan keamanan data, Ivan menilai literasi digital menjadi faktor penting. Pengguna teknologi harus memiliki kemampuan yang memadai agar AI dapat dimanfaatkan secara optimal dan bertanggung jawab.

“Literasi digital sangat penting. Dengan literasi digital yang baik, pengguna mampu mengoptimalkan fungsi teknologi AI,” ujarnya.

Dorong Riset dan Inovasi Berbasis Data

BPJS Kesehatan juga membuka peluang pemanfaatan data sampel untuk mendukung penelitian dan inovasi di bidang kesehatan.

Ivan menyebut sejumlah data sampel telah disediakan untuk kepentingan penelitian, antara lain terkait diabetes, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental, serta COVID-19.

Data tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh peneliti, akademisi, maupun inovator untuk menghasilkan penelitian dan solusi baru di bidang kesehatan.

“Dukungan BPJS Kesehatan terhadap ekosistem inovasi salah satunya melalui data. Karena AI tidak akan berjalan tanpa data,” jelasnya.

Pemanfaatan data sampel tersebut tetap dilakukan melalui mekanisme dan prosedur yang ditetapkan, mulai dari registrasi, proses persetujuan dan akses data, hingga penyampaian hasil penelitian.

Menuju Ekosistem Kesehatan yang Lebih Cerdas

Ivan menegaskan bahwa pemanfaatan AI bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kesehatan yang lebih responsif, efisien, dan berbasis data.

Dengan dukungan infrastruktur digital, keamanan data, tata kelola yang kuat, serta peningkatan literasi digital, AI diharapkan dapat membantu BPJS Kesehatan menghadirkan pelayanan yang semakin cepat, presisi, personal, dan mampu menjangkau kebutuhan peserta secara lebih luas.

Transformasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pemerataan layanan kesehatan di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi dan data secara bertanggung jawab.

“Data menjadi fondasi. Ketika data dikelola dengan baik dan didukung AI, kita dapat menghasilkan insight yang lebih cepat dan akurat untuk kepentingan peserta serta penguatan ekosistem kesehatan nasional,” pungkas Ivan.