Jakarta, – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengakselerasi transformasi energi nasional melalui pengembangan energi baru dan energi terbarukan (EBT), konservasi energi, serta pembukaan ruang investasi yang lebih luas bagi sektor energi bersih.
Upaya tersebut menjadi bagian strategis Indonesia dalam mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060). Namun, tantangan masih cukup besar. Saat ini, implementasi energi terbarukan disebut baru berada di kisaran 17 persen, sehingga diperlukan langkah percepatan dan kolaborasi lintas sektor.
Hal tersebut disampaikan Dr. Harris, Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, saat ditemui dalam rangkaian The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 bertema “Indonesia Renewable Energy Acceleration: Executing Strategic Projects, Unlocking Investment, Building Resilience”, di Convention Grand Ballroom, JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Harris menegaskan bahwa percepatan transisi energi tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan badan usaha, investor, akademisi, masyarakat, media, NGO, BUMN, hingga sektor swasta.
“Energi baru, energi terbarukan, konservasi energi yang saat ini baru terimplementasi, khususnya untuk EBT-nya, baru sekitar 17 persen. Target kita sebenarnya adalah ini mau dimaksimalkan menuju net zero emission,” ujar Harris.
RUPTL Jadi Motor Percepatan, 42 GW hingga 2034
Harris menjelaskan, pemerintah telah memulai langkah percepatan transisi energi secara bertahap, salah satunya melalui implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dalam RUPTL tersebut, terdapat rencana pengembangan pembangkit dengan kapasitas sekitar 42 gigawatt (GW) hingga 2034. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi surya melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp).
Program PLTS 100 GWp tersebut, kata Harris, merupakan salah satu langkah besar untuk mengoptimalkan potensi energi surya Indonesia sekaligus menyediakan listrik yang lebih bersih bagi masyarakat.
“Ini adalah langkah besar Indonesia untuk bisa memaksimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan untuk mengisi atau untuk menyediakan listrik yang bersih kepada seluruh masyarakat di Indonesia,” katanya.
B50 hingga Geothermal Perkuat Bauran Energi Bersih
Menurut Harris, strategi transisi energi Indonesia tidak hanya bertumpu pada pengembangan PLTS. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan sumber energi domestik lainnya, termasuk melalui program B50 dan pengembangan energi panas bumi atau geothermal.
B50 menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis sumber daya dalam negeri. Sementara itu, panas bumi dinilai memiliki prospek besar mengingat Indonesia memiliki salah satu potensi geothermal terbesar di dunia.
Harris mengatakan Indonesia terus diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan panas bumi dan menjadi salah satu negara dengan penggunaan energi geothermal terbesar di dunia pada 2030.
“Indonesia yang punya potensi terbesar panas bumi dunia sekarang sudah bergerak menuju kepada negara yang menggunakan energi panas bumi terbesar di dunia pada tahun 2030,” ujarnya.
Investasi Jadi Kunci, Pemerintah Buka Ruang bagi Investor
Besarnya target pengembangan energi terbarukan membutuhkan dukungan investasi yang tidak sedikit. Karena itu, pemerintah terus memperkuat instrumen kebijakan guna menciptakan iklim investasi yang semakin menarik dan kompetitif.
Sejumlah aspek menjadi perhatian, mulai dari kebijakan harga, pemanfaatan produksi dalam negeri, hingga optimalisasi potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia.
Harris menegaskan pemerintah terbuka terhadap keterlibatan investor untuk bersama-sama membangun infrastruktur energi bersih di Indonesia.
“Semua ini kita kolaborasikan dan kita komunikasikan tentunya dengan semua pihak, termasuk yang tadi kami sampaikan dengan badan usaha, dengan investor untuk bisa ikut bersama-sama dengan kita semua di Indonesia untuk bisa membangunnya sehingga realisasinya bisa tercapai lebih cepat lagi,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai nilai investasi yang telah terealisasi maupun kebutuhan investasi untuk merealisasikan program PLTS 100 GWp, Harris belum menyampaikan angka secara rinci.
“Kami tidak hafal satu-satu kalau investasinya,” katanya.
Kolaborasi Jadi Kunci Menuju NZE 2060
Harris kembali menekankan bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan kolaborasi seluruh komponen bangsa. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dunia usaha, investor, akademisi, masyarakat, media, NGO, BUMN maupun sektor swasta.
“Hari ini menandai awal kita untuk bisa lebih erat lagi kolaborasi kita sesama anak bangsa, stakeholder yang ada di Indonesia untuk bisa mengakselerasi,” tegasnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan hanya diperlukan untuk mengejar target bauran energi terbarukan, tetapi juga memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Dengan potensi energi surya, panas bumi, bioenergi, serta sumber energi terbarukan lainnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem energi yang lebih bersih sekaligus membuka ruang investasi baru.
Pemerintah berharap peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dapat memberikan kontribusi semakin besar dalam menekan emisi gas rumah kaca dan pada akhirnya mendukung pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060.