Bekasi – Kota Bekasi memasuki fase “lengang” menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sekitar 60 persen warganya memilih mudik ke kampung halaman, menyisakan sebagian lainnya yang disebut Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, sebagai “pemain inti” penjaga denyut kota.

Pernyataan itu disampaikan saat Tri meninjau langsung arus mudik di Stasiun Bekasi pada H-1 Lebaran, Jumat (20/3/2026). Di tengah lonjakan penumpang, ia memastikan mobilitas warga berjalan lancar sekaligus mengecek kesiapan layanan transportasi.

Kurang lebih hampir 60 persen warga mudik. Sisanya adalah pemain inti yang menjaga kota ini tetap hidup,” ujarnya.
Fenomena ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Di balik arus keluar warga, terdapat tantangan tersendiri: bagaimana memastikan pelayanan publik tetap berjalan stabil saat sebagian besar penduduk meninggalkan kota.

Tri pun menekankan bahwa mereka yang tidak mudik memiliki peran penting, mulai dari menjaga roda ekonomi hingga memastikan pelayanan publik tidak terganggu.

Di lokasi, ia juga berdialog dengan sejumlah pemudik yang memilih berangkat pada puncak arus karena berbagai alasan, termasuk menunggu keluarga menyelesaikan urusan pekerjaan atau sekolah. Wali Kota mengingatkan agar warga tetap menjaga kondisi fisik dan keselamatan selama perjalanan jauh.
Selain memantau situasi di stasiun, Tri turut membahas rencana pembangunan underpass bersama pihak PT Kereta Api Indonesia yang ditargetkan terealisasi pada 2027. Infrastruktur ini diharapkan mampu mengurai kemacetan di sekitar Stasiun Bekasi yang selama ini menjadi titik krusial mobilitas warga.

Pemerintah Kota Bekasi juga mengandalkan program mudik gratis sebagai solusi alternatif. Sebanyak 27 bus telah diberangkatkan ke berbagai kota tujuan, termasuk Malang, dengan seluruh penumpang dilaporkan tiba dengan selamat.
Namun, di balik euforia mudik, Tri menyisipkan pesan yang cukup “menohok”. Ia meminta warga yang kembali ke Bekasi nantinya membawa kualitas dan kesiapan diri yang lebih baik, terutama jika membawa sanak saudara untuk menetap di kota ini.

“Kalau nanti ada yang ikut kembali ke Bekasi, pastikan punya kualitas SDM yang baik,” katanya.
Pernyataan ini sekaligus menyinggung realitas lain yang dihadapi kota penyangga ibu kota seperti Bekasi: derasnya arus urbanisasi yang kerap tidak diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia.
Di tengah kota yang “setengah kosong”, tantangan justru bergeser—dari kepadatan menuju konsistensi pelayanan. Dan di titik itulah, “pemain inti” diuji perannya menjaga Bekasi tetap berjalan.