Mereka tidak hanya bertanding melawan lawan di atas matras, tetapi juga melawan waktu, tekanan, dan sesama kandidat penghuni tim nasional. Setiap tendangan, setiap poin, dan setiap kemenangan akan menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih. “PBTI akan mencari yang terbaik di kelas itu makanya akan diadakan monitoring,” kata Pino.
Karena itu, surat dari Asian Taekwondo Union sesungguhnya bukanlah garis akhir. Ia lebih tepat disebut sebagai pintu yang baru saja terbuka. Di balik tiga tiket yang kini telah berada di tangan Indonesia, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Menyiapkan atlet terbaik. Menentukan komposisi tim yang paling kompetitif. Dan memastikan bahwa ketika Asian Games Nagoya 2026 dimulai, Indonesia tidak hanya datang sebagai peserta, melainkan sebagai penantang yang siap memberi kejutan.