Nomor kedua datang dari kelas under 80 kilogram putra melalui penampilan M. Raihan Fadhilah. Raihan memulai langkahnya dengan kemenangan meyakinkan atas taekwondoin Nepal, Abhishek Baral, pada babak 16 besar. Langkahnya baru terhenti di perempat final setelah menghadapi wakil Uzbekistan, J. Jaysunov. Meski tidak naik podium, penampilan Raihan memberikan kontribusi penting dalam perolehan kuota Indonesia. Dari arena di Mongolia itulah satu tiket tambahan menuju Asian Games berhasil diamankan.

Jika ditotal dengan tiket yang sebelumnya diraih M. Rizal di nomor poomsae, maka Indonesia kini telah meloloskan tiga nomor ke Asian Games Nagoya 2026.

Bagi PBTI, pencapaian ini lebih dari sekadar angka. Tiga nomor yang berhasil diamankan menjadi penanda bahwa proses pembinaan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil yang nyata. Dalam olahraga prestasi, keberhasilan tidak selalu diukur dari jumlah medali yang dibawa pulang pada satu kejuaraan. Terkadang, keberhasilan justru terlihat dari kemampuan menjaga kesinambungan regenerasi, menyiapkan atlet-atlet baru, dan memastikan Indonesia tetap hadir dalam panggung olahraga terbesar di Asia.

Di sinilah arti penting kabar dari Asian Taekwondo Union tersebut. Ia menjadi validasi bahwa atlet-atlet Indonesia mampu bersaing di level Asia yang semakin kompetitif. Negara-negara seperti Korea Selatan, Iran, Uzbekistan, Jepang, hingga Tiongkok terus meningkatkan kualitas pembinaan mereka. Di tengah persaingan yang ketat itu, Indonesia tetap berhasil merebut tempat di Nagoya.

Namun yang membuat pencapaian ini semakin bernilai adalah kualitas persaingan yang akan dihadapi Indonesia di Nagoya nanti. Tiket memang sudah berada di tangan, tetapi jalan menuju podium akan mempertemukan Merah Putih dengan kekuatan-kekuatan terbaik Asia.

Di nomor poomsae putra yang diloloskan oleh M. Rizal, Indonesia akan bersaing dengan atlet-atlet dari Hong Kong China, India, Iran, Kazakstan, Korea Selatan, Macau China, Malaysia, Pakistan, Filipina, Singapura, Chinese Taipei, Thailand, Vietnam, tuan rumah Jepang, serta satu peserta dari jalur ATU Wild Card. Daftar peserta itu menunjukkan betapa padatnya persaingan nomor yang selama ini didominasi negara-negara dengan tradisi poomsae kuat seperti Korea Selatan, Iran, dan Chinese Taipei.