Jakarta, – Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Lumbaa, S.E., terpilih sebagai Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) periode 2026–2031 dalam Musyawarah Besar (MUBES) V PMTI yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di Binakara Auditorium, Jakarta.
Mengusung tema “Simpul, Distribusi, Solusi”, MUBES V PMTI menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan masyarakat Toraja, menyatukan berbagai elemen organisasi, serta merumuskan langkah strategis bagi kemajuan masyarakat Toraja di berbagai wilayah Indonesia maupun di kampung halaman.
Dalam sambutannya setelah terpilih, Yulius Selvanus Lumbaa menegaskan bahwa PMTI harus menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat Toraja, tanpa membedakan latar belakang, organisasi, maupun tempat pengabdian.
Ia mengajak seluruh pengurus dan anggota PMTI untuk mengedepankan ketulusan, menjaga kebersamaan, serta menghindari konflik internal yang dapat melemahkan persatuan organisasi.
“Kita bekerja untuk kita semua, kita bekerja untuk Indonesia, dan kita bekerja untuk kampung halaman kita. Jadi, tidak perlu lagi kita terpengaruh oleh upaya saling memengaruhi. Kita ini satu keluarga besar yang tentunya harus saling mengingatkan satu dengan yang lain,” tegas Yulius.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk membangun permusuhan, menyimpan dendam, ataupun menjatuhkan sesama anggota.
Ia mengajak seluruh keluarga besar PMTI untuk membangun budaya organisasi yang sehat, dengan mengutamakan dialog, saling menghormati, dan memberikan dukungan terhadap setiap anggota yang sedang menjalankan tugas pengabdian.
“Tidak perlu ada marah-marah, tidak perlu ada dendam. Kalau ada yang tidak suka dengan kita, biarlah. Kita tetap bekerja dengan tulus. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama memberikan kontribusi bagi organisasi dan kampung halaman,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Yulius juga menyinggung perjalanan pengabdiannya yang menurutnya tidak terlepas dari kehendak Tuhan dan ketulusan dalam menjalankan tanggung jawab.
Ia mencontohkan pengalamannya sebagai putra Toraja yang dipercaya mengemban amanah sebagai Gubernur Sulawesi Utara, meskipun masyarakat Toraja berasal dari Sulawesi Selatan.
Bagi Yulius, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk mengabdi dapat terbuka ketika seseorang menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh dan tulus.
Pesan itu, lanjutnya, juga harus menjadi landasan bagi seluruh pengurus PMTI. Setiap anggota tidak perlu sibuk mencari pengakuan atau berusaha menunjukkan dirinya paling baik. Sebaliknya, seluruh jajaran harus fokus melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai visi dan misi organisasi.
“Tidak usah kita ingin dinilai bagus. Kita bekerja saja dengan baik, laksanakan tugas pokok yang diberikan kepada kita. Kalau kita menjalankan tugas dengan tulus, orang akan melihat dan menilai sendiri apa yang sudah kita lakukan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa visi dan misi PMTI tetap menjadi pedoman utama selama masa kepemimpinannya. Semangat Simpul, Distribusi, Solusi harus diwujudkan melalui kerja nyata yang mampu menyatukan potensi, menyalurkan aspirasi, dan menghadirkan penyelesaian atas berbagai persoalan masyarakat Toraja.
Yulius menegaskan, PMTI harus terus memperkuat perannya sebagai wadah pemersatu seluruh elemen masyarakat Toraja, termasuk berbagai organisasi dan perhimpunan masyarakat Toraja yang tersebar di berbagai daerah.
Ia menyadari bahwa setiap organisasi memiliki dinamika, karakter, dan cara pandang masing-masing. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghalangi semangat untuk bekerja bersama demi kepentingan masyarakat Toraja.
Menurutnya, PMTI telah melalui perjalanan panjang hingga memasuki penyelenggaraan MUBES yang kelima. Pengalaman selama kurang lebih dua dekade harus menjadi modal kedewasaan bagi seluruh anggota dalam menghadapi tantangan organisasi.
“PMTI ini adalah rumah kita bersama. Kita harus menjadi wadah pemersatu semua elemen dan organisasi perhimpunan masyarakat Toraja di mana pun mereka berada, apa pun nama organisasinya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa PMTI tidak boleh terjebak dalam persaingan internal yang justru menghambat tujuan besar organisasi.
Bagi Yulius, pintu komunikasi dan kebersamaan harus tetap terbuka. Jika ada pihak yang belum bersedia bergabung atau bekerja sama, PMTI tetap perlu menjaga sikap terbuka tanpa memaksakan kehendak.
Ia berharap seluruh jajaran mampu menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi, sehingga PMTI dapat terus berkembang menjadi organisasi yang inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Yulius mengingatkan pentingnya menjaga nama baik PMTI sebagai organisasi yang memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat Toraja dan para pendahulu yang telah merintis perjuangan organisasi.
Ia meminta seluruh pengurus untuk meneruskan semangat perjuangan tersebut dengan memperkuat solidaritas, membangun kerja sama, dan menghindari tindakan yang dapat merusak hubungan antarsesama.
“Pendahulu-pendahulu kita sudah menitipkan nama besar PMTI kepada kita. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan sesuai misi organisasi untuk memajukan kampung halaman kita. Kita harus saling menarik, saling merangkul, dan saling mendorong, bukan saling menjatuhkan,” tegasnya.
Menurut Yulius, kemajuan organisasi tidak dapat dibangun hanya oleh ketua umum atau pengurus pusat. Dibutuhkan partisipasi seluruh anggota, baik yang berada di tingkat pusat maupun daerah, agar berbagai program dapat berjalan secara berkesinambungan.
Ia pun mengajak seluruh pengurus untuk saling mendukung di mana pun mereka berada dan apa pun tanggung jawab yang sedang dijalankan.
Dengan semangat kebersamaan, PMTI diharapkan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan potensi masyarakat Toraja di perantauan dengan kebutuhan pembangunan di kampung halaman.
Dalam kesempatan tersebut, Yulius juga menyoroti pentingnya komunikasi yang baik antara pengurus daerah dan pengurus pusat. Ia meminta setiap persoalan organisasi disampaikan melalui mekanisme komunikasi yang tepat agar dapat dipahami dan ditangani secara menyeluruh.
Menurutnya, pengurus tidak seharusnya mengambil kesimpulan atau memberikan penilaian sebelum persoalan yang terjadi diketahui secara lengkap oleh pihak-pihak terkait.
Ia menegaskan bahwa pengurus pusat tetap memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan persoalan yang terjadi di berbagai daerah. Karena itu, komunikasi harus terus dijaga agar tidak muncul kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan.
“Kalau ada masalah, tolong laporkan kepada ketua umum. Jangan sampai ketua umum belum mendengar persoalannya, tetapi sudah langsung dinilai. Saya belum tentu mengetahui persoalannya kalau tidak ada yang menyampaikan. Jadi, mari kita bangun komunikasi yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, PMTI harus menjadi organisasi yang terbuka terhadap aspirasi dan persoalan anggotanya. Setiap masalah perlu disampaikan secara jelas agar dapat dicarikan jalan keluar melalui dialog dan penyelesaian yang bertanggung jawab.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Simpul, Distribusi, Solusi, yakni memperkuat hubungan antarelemen masyarakat, menyalurkan aspirasi secara tepat, dan menghadirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi.
Terpilihnya Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Lumbaa, S.E., sebagai Ketua Umum PMTI periode 2026–2031 menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk melanjutkan perjalanan organisasi dan memperkuat peran masyarakat Toraja di tingkat nasional.
Pesan yang disampaikan dalam MUBES V PMTI menempatkan persatuan, ketulusan, komunikasi, dan kerja nyata sebagai fondasi penting dalam menjalankan roda organisasi.
Melalui semangat Simpul, Distribusi, Solusi, PMTI diharapkan tidak hanya menjadi tempat berhimpunnya masyarakat Toraja, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang mampu menyatukan gagasan, memperkuat jaringan antardaerah, dan mendorong kontribusi nyata bagi pembangunan.
Yulius pun mengajak seluruh keluarga besar PMTI untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan, menghormati perjuangan para pendahulu, serta mengedepankan kepentingan bersama di atas perbedaan pribadi maupun kelompok.
Baginya, keberhasilan PMTI tidak semata-mata diukur dari besarnya organisasi, tetapi juga dari kemampuan seluruh anggotanya untuk bekerja bersama, menjaga persaudaraan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan kepemimpinan baru periode 2026–2031, PMTI diharapkan semakin solid sebagai rumah besar masyarakat Toraja, sekaligus menjadi simpul persatuan, penyalur aspirasi, dan penggerak solusi demi kemajuan Indonesia serta kampung halaman.