Jakarta, – Konsep Green Education dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda Indonesia agar memiliki pengetahuan, karakter, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan dan tantangan pembangunan masa depan.
Ketua Koperasi Kencana Dharma Cendekia (KKDC) MPP ICMI, Rhesa Yogaswara, MM., MF, mengatakan bahwa gagasan Green Education tidak sekadar berbicara mengenai lingkungan, tetapi memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga kesiapsiagaan menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan bencana alam.
Hal tersebut disampaikan Rhesa dalam kegiatan yang mengangkat tema “Green Education Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter dan Peduli Lingkungan”, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut Rhesa, keberadaan ICMI yang telah menjangkau berbagai tingkatan wilayah, termasuk hingga kecamatan, menjadi modal penting untuk membangun gerakan kolaboratif yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“ICMI itu bukan hanya di organisasi saja. ICMI sampai tingkat kecamatan sudah ada. Itulah semangat kita di ICMI,” ujar Rhesa.
Ia menjelaskan, salah satu bentuk usaha yang dikembangkan ICMI adalah Koperasi Kencana Dharma Cendekia (KKDC). Koperasi tersebut lahir dari semangat membangun kolaborasi antara masyarakat di wilayah perkotaan dan pedesaan.
Rhesa menyebut gagasan tersebut pada awalnya memiliki konsep Kolaborasi Kota Desa Cendekia, yang kemudian dikembangkan menjadi Koperasi Kencana Dharma Cendekia.
“Semangatnya adalah bagaimana kita membangun Indonesia dari desa. Kolaborasi kota dan kolaborasi desa ini kemudian dijahit menjadi sebuah gerakan bersama,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan program tersebut merupakan bagian dari amanah dan tantangan yang diberikan kepada jajaran ICMI untuk menghadirkan berbagai program konkret yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Rhesa mengungkapkan, ide pengembangan program Green Education muncul setelah pihaknya mendapatkan tantangan untuk segera menyusun program yang memiliki dampak nyata.
“Sekitar tiga minggu yang lalu kami dipanggil ke kantor dan langsung ditantang untuk membuat program. Salah satu program yang Alhamdulillah kemudian kami kembangkan adalah Green Education,” ungkapnya.
Menurutnya, Green Education harus dipahami secara lebih luas. Konsep hijau tidak hanya berkaitan dengan menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ketahanan nasional.
Rhesa menekankan sedikitnya tiga aspek penting yang dapat diperkuat melalui pendekatan Green Education, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Pertama, ketahanan pangan. Menurut dia, Indonesia harus mampu membangun sistem pangan yang kuat dan berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia, terutama di wilayah pedesaan.
“Kita harus mewujudkan ketahanan pangan. Dengan pendekatan green, kita bisa memperkuat ketahanan pangan dari bawah,” katanya.
Kedua, ketahanan energi. Ia menilai konsep hijau juga dapat diarahkan untuk mendorong pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan sehingga masyarakat secara bertahap mampu meningkatkan kemandirian energi.
“Yang kedua adalah tahan energi. Dengan green, kita bisa menuju swasembada energi,” tutur Rhesa.
Ketiga, persoalan lingkungan dan bencana alam. Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan dan berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah menjadi tantangan bersama yang harus diantisipasi sejak dini.
Karena itu, pendidikan menjadi instrumen penting untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda.
Rhesa menilai generasi yang saat ini duduk di bangku SMA merupakan bagian penting dari masa depan Indonesia. Mereka perlu mendapatkan pemahaman dan pencerahan mengenai lingkungan, keberlanjutan, ketahanan pangan, energi, serta tantangan pembangunan.
“Masa depan Indonesia adalah generasi yang sekarang duduk di bangku SMA. Siapa yang menjelaskan dan mencerahkan mereka? Untuk itu, Green Education menjadi penting,” tegasnya.
Ia berharap program Green Education dapat berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari dunia pendidikan, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, koperasi hingga organisasi kemasyarakatan.
Dengan kolaborasi tersebut, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada teori di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan melalui kegiatan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Rhesa menegaskan, membangun Indonesia dari desa membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu menciptakan solusi bagi tantangan masa depan.
“Semangatnya adalah membangun Indonesia dari bawah. Dari desa, melalui kolaborasi kota dan desa, kita siapkan generasi yang mampu menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan Indonesia,” pungkasnya.