Jakarta, – Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-38 Satuan Siswa, Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila berlangsung penuh semangat kebersamaan di Tavia Heritage Hotel, Jakarta, pada 6–8 November 2026.

Kegiatan nasional ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran SAPMA Pemuda Pancasila dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperkuat konsolidasi organisasi, mengevaluasi perjalanan perjuangan, serta merumuskan program strategis dalam menghadapi tantangan generasi muda ke depan.

Ketua Umum Pusat SAPMA Pemuda Pancasila, Aulia Arief, S.H., M.H., dalam sambutannya mengajak seluruh kader untuk memahami perjalanan panjang organisasi yang telah melalui berbagai tahapan sejarah, mulai dari Konferensi pertama pada 2011, Musyawarah Nasional (Munas) pertama tahun 2015 di Surakarta, Munas kedua tahun 2019, hingga Munas ketiga tahun 2023 di Bandung.

Menurutnya, perjalanan SAPMA Pemuda Pancasila bukanlah sesuatu yang mudah. Berbagai dinamika organisasi telah dilalui, termasuk dalam mempertahankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), sekaligus melakukan penyesuaian terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai perjuangan organisasi.

Aulia menegaskan bahwa SAPMA bukan sekadar organisasi kepemudaan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari keluarga besar Pemuda Pancasila yang memiliki tanggung jawab meneruskan nilai-nilai Pancasila, semangat kebangsaan, persatuan, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa SAPMA adalah laboratorium kader Pemuda Pancasila. Kita bukan hanya ingin melahirkan kader yang pandai berbicara, tetapi kader yang mampu bekerja. Bukan hanya berani tampil, tetapi juga berani bertanggung jawab. Bukan hanya loyal terhadap jabatan, tetapi setia kepada organisasi dan pimpinan,” tegas Aulia.

Dalam Rakernas tahun ini, SAPMA Pemuda Pancasila mengusung tema “Mengakar pada Persatuan dan Karakter, dengan Semangat Membumikan Karakter Pemuda, Menguatkan Persatuan, Kepedulian dan Ketangguhan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Aulia menjelaskan, tema tersebut memiliki makna mendalam. Sebab, usia 38 tahun dan nama besar organisasi tidak akan memiliki arti apabila tidak diiringi dengan kualitas kader yang berkarakter serta struktur organisasi yang kuat dan memberikan dampak hingga tingkat subkomisariat.

Untuk itu, ia meminta seluruh peserta Rakernas menjadikan forum nasional tersebut sebagai momentum memperkuat empat fokus konsolidasi organisasi.

Pertama, Konsolidasi Ideologis.

Setiap kader harus memahami alasan dan tujuan bergabung dengan SAPMA Pemuda Pancasila. Pemahaman Pancasila, wawasan kebangsaan, serta pendidikan dan pelatihan kaderisasi harus menjadi fondasi utama dalam setiap jenjang organisasi, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Aulia mendorong seluruh pengurus wilayah dan cabang agar lebih aktif menyelenggarakan kaderisasi dengan berbagai bentuk kegiatan yang mampu melahirkan kader unggul, berintegritas, dan memiliki nilai perjuangan.

Kedua, Konsolidasi Struktural.

Pengurus wilayah dan cabang diminta melakukan evaluasi serta konsolidasi internal terhadap kepengurusan masing-masing, termasuk memastikan struktur yang masih aktif, masa berlaku surat keputusan (SK), serta pelaksanaan musyawarah organisasi yang masih tertunda.

Hal tersebut menjadi penting mengingat SAPMA Pemuda Pancasila menargetkan pelaksanaan Munas keempat pada 2027.

Aulia berharap sebelum Munas keempat dilaksanakan, seluruh struktur kepengurusan wilayah dan cabang sudah lengkap, sah, serta mampu menjalankan roda organisasi secara aktif dan berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan harapan agar generasi penerus mampu melanjutkan estafet perjuangan SAPMA Pemuda Pancasila dengan penuh tanggung jawab.

Ketiga, Konsolidasi Strategis.

Aulia mengajak seluruh jajaran menyusun dan mengusulkan program-program strategis yang memberikan dampak nyata, baik bagi internal organisasi maupun masyarakat luas.

Dua program yang menjadi perhatian adalah SAPMA Mengajar dan SAPMA Mengabdi. Ia berharap program SAPMA Mengajar dapat terus dikembangkan dengan melibatkan kader-kader yang memiliki kompetensi dan latar belakang pendidikan untuk berbagi ilmu serta membantu meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.

Menurutnya, keberadaan organisasi harus dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat melalui kegiatan sosial, pendidikan, dan pengabdian.

Keempat, Konsolidasi Kebangsaan.

Di tengah dinamika politik, sosial, dan ekonomi nasional, Aulia mengingatkan seluruh kader SAPMA Pemuda Pancasila agar menjadi perekat persatuan bangsa dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Ia menegaskan bahwa SAPMA harus mengambil peran positif dalam menjaga stabilitas, memperkuat persatuan, serta mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan program-program pembangunan nasional.

“Kita boleh kritis terhadap hal yang salah, perbaiki yang kurang, kuatkan yang lemah. Tetapi kita harus melawan segala bentuk upaya yang memecah belah persatuan bangsa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aulia menekankan pentingnya meningkatkan kualitas kaderisasi, mengembangkan sumber daya manusia, membangun kepemimpinan yang berintegritas, serta memperluas pengabdian di bidang pendidikan dan sosial.

Menutup sambutannya, ia menyampaikan pesan khusus kepada seluruh kader SAPMA Pemuda Pancasila agar tidak hanya membanggakan nama besar dan atribut organisasi, tetapi mampu menunjukkan kualitas melalui karya nyata.

“Jangan biarkan SAPMA hanya dikenal karena nama besarnya. Buatlah SAPMA dikenal karena karya nyatanya. Jangan biarkan kader kita dikenal hanya karena atribut yang dikenakannya, tetapi buatlah mereka dikenal karena kecerdasannya, kejujurannya, keberaniannya membela kebenaran, serta kesediaannya membantu masyarakat,” pesan Aulia.

Pembukaan Rakernas dan HUT ke-38 SAPMA Pemuda Pancasila ini diharapkan menjadi titik penguatan semangat perjuangan seluruh kader di Indonesia. Tidak hanya memperkuat soliditas dan struktur organisasi, tetapi juga melahirkan generasi muda yang berkarakter, berintegritas, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara menuju Indonesia Emas 2045.