Jakarta, – Malam Anugerah Aspirasi MASFEST Merah Putih 2026 l, Selasa (18/8/2026) di Jakarta berlangsung penuh makna dengan menghadirkan apresiasi bagi para sineas yang mengangkat suara dan aspirasi kelas pekerja melalui karya film pendek. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menawarkan ruang baru bagi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi melalui media digital secara kreatif dan tanpa kekerasan.

Ketua Penyelenggara MASFEST Merah Putih 2026, Sony, mengatakan bahwa festival tersebut memiliki konsep berbeda dibandingkan festival film pada umumnya. MASFEST Merah Putih tidak menempatkan peserta dalam sebuah kompetisi semata, melainkan memberikan Anugerah Aspirasi kepada para pembuat film yang berhasil menyampaikan pesan dan suara kelas pekerja melalui karya sinematografi.

Menurut Sony, gagasan MASFEST Merah Putih berangkat dari kegelisahan terhadap pola penyampaian aspirasi yang selama ini banyak dilakukan melalui aksi demonstrasi di ruang publik. Demonstrasi merupakan bagian dari hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat, namun dokumentasi dan pesan yang disampaikan sering kali tidak bertahan lama setelah aksi selesai.

“Merah Putih ini merupakan wahana baru, ruang baru dan jalan baru untuk menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan melalui pembuatan film pendek,” ujar Sony dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, film pendek dipilih karena memiliki kekuatan untuk mengemas aspirasi secara lebih kreatif, komunikatif dan memiliki nilai estetika. Melalui medium digital, pesan yang disampaikan para pekerja diharapkan dapat terdokumentasikan sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Dalam penyelenggaraan tahun 2026, panitia menerima sekitar 63 film pendek dari berbagai kalangan. Peserta tidak hanya berasal dari komunitas pekerja, tetapi juga kelompok masyarakat, pelajar SMK, mahasiswa, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah.

Setelah melalui proses kurasi, terpilih 10 film nominasi yang dinilai paling mampu merepresentasikan aspirasi kelas pekerja. Dari 10 nominasi tersebut, pada malam puncak diberikan penghargaan kepada lima karya terbaik sesuai kategori yang ditetapkan penyelenggara.

Sony mengatakan, keberagaman karya yang masuk menjadi pengalaman penting bagi panitia. Sebagian karya memiliki pendekatan dokumenter, sementara lainnya menggunakan bentuk dan gaya sinematografi yang berbeda.

“Dari hasil kurasi, tidak semua film langsung mendekati apa yang kita inginkan. Ada yang berbentuk dokumenter dan ada berbagai bentuk karya lainnya. Ini menjadi evaluasi bagi kami untuk penyelenggaraan berikutnya,” jelasnya.

Dari Demonstrasi ke Karya Digital

Sony menegaskan bahwa MASFEST Merah Putih ingin membangun budaya baru dalam menyampaikan aspirasi. Pesan mengenai persoalan pekerja tidak harus selalu disampaikan melalui aksi di jalan, tetapi juga dapat dikemas menjadi karya audiovisual yang kreatif dan memiliki pesan kuat.

Konsep tersebut sekaligus diharapkan dapat mencegah penyampaian aspirasi berubah menjadi ujaran kebencian, provokasi maupun kekerasan.

Untuk memastikan karya yang ditampilkan tetap memiliki nilai sinematografi dan sesuai dengan ketentuan perfilman, penyelenggara juga melibatkan unsur perfilman, termasuk Lembaga Sensor Film (LSF), dalam proses penyelenggaraan.

“Yang kita inginkan adalah demo atau penyampaian aspirasi tanpa kekerasan melalui media digital yang dikemas secara estetis melalui film pendek,” kata Sony.

Ia menambahkan, MASFEST Merah Putih direncanakan menjadi agenda tahunan. Jika pada 2026 baru terdapat lima kategori, penyelenggara menargetkan pada 2027 dapat mengembangkan hingga 21 kategori, termasuk isu lingkungan hidup, kelautan dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Selain memperluas kategori, penyelenggara juga berencana mengadakan workshop bagi calon peserta agar semakin banyak masyarakat yang memahami cara mengemas aspirasi menjadi film pendek yang memiliki nilai artistik sekaligus pesan sosial.

Said Iqbal: Film Bisa Menjadi Media Perubahan

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Ketua Umum Partai Buruh, sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Ir. H. Said Iqbal, S.T., M.E., menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan MASFEST Merah Putih 2026.

Said Iqbal menilai film memiliki kekuatan besar sebagai media komunikasi dan penyampaian pesan kepada masyarakat. Ia juga menyampaikan salam dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kepada seluruh panitia, insan perfilman, seniman dan tamu undangan yang hadir.

Menurutnya, perhatian terhadap industri perfilman merupakan bagian penting dalam membangun kebudayaan sekaligus menyampaikan berbagai pesan sosial kepada masyarakat.

“Film adalah alat propaganda yang paling efektif untuk menyampaikan program-program pemerintah dan juga menerjemahkan situasi kultural yang kritis melalui drama,” ujar Said Iqbal.

Ia berharap karya-karya terbaik dari MASFEST Merah Putih tidak berhenti pada malam penganugerahan, tetapi dapat dikembangkan hingga menembus festival film yang lebih luas, termasuk tingkat internasional.

Said Iqbal juga menyoroti pentingnya perlindungan sosial bagi insan perfilman, pekerja seni dan content creator. Menurutnya, pekerja di sektor kreatif juga membutuhkan perlindungan jaminan sosial, terutama terkait kecelakaan kerja, kematian dan risiko pekerjaan.

“Banyak insan perfilman, pekerja seni dan konten kreator yang jumlahnya jutaan. Kita harus memikirkan sistem jaminan sosial yang paling dasar,” katanya.

Ia mencontohkan, perlindungan tersebut penting karena pekerja kreatif tidak selalu berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Ketika seseorang telah terkenal, belum tentu seluruh kebutuhan perlindungan sosialnya telah terpenuhi.

Said Iqbal juga menyatakan siap membawa gagasan dan karya terbaik MASFEST Merah Putih kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut.

Target 2027 Go International

Said Iqbal mendorong agar karya-karya terbaik MASFEST Merah Putih 2026 dapat dikembangkan dan diperkenalkan ke dunia internasional. Ia bahkan membuka peluang agar film pendek terbaik diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sehingga dapat menjangkau penonton global.

Menurutnya, pengalaman film bertema perjuangan pekerja yang pernah diproduksi dan ditayangkan hingga ke luar negeri menunjukkan bahwa kisah perjuangan kelas pekerja Indonesia memiliki daya tarik universal.

“Kalau ada yang bagus, saya janji akan bawa. Nanti kita putar di internasional,” tegasnya.

Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari para tamu undangan yang hadir.

Malam Anugerah Aspirasi MASFEST Merah Putih 2026 akhirnya bukan sekadar malam penghargaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan film pendek sebagai ruang alternatif bagi masyarakat, khususnya pekerja, dalam menyampaikan aspirasi secara damai, kreatif, terdokumentasi dan dapat menjangkau publik yang lebih luas.

Dengan rencana pengembangan kategori dan workshop pada 2027, MASFEST Merah Putih diharapkan mampu tumbuh menjadi wadah tahunan yang mempertemukan dunia pekerja, komunitas, sineas, seniman dan masyarakat dalam satu ruang kreatif.

Semangat yang dibawa pun sederhana namun kuat: aspirasi tetap disuarakan, tetapi melalui karya yang kreatif, bermartabat dan tanpa kekerasan.