JAKARTA – Dewan Pengurus Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) menyelenggarakan PIKI Awards 2026 yang disiarkan secara langsung dari Studio Metro TV, Minggu malam (25/10).

Dari deretan nama penerima penghargaan terdapat satu mantan Hakim Mahkamah Agung yang sepak terjangnya sangat ditakuti oleh koruptor. Ia adalah advokat, hakim, dan akademisi hukum Indonesia Prof. Dr. Artidjo Alkotsar, S.H., LL. M.

Artidjo menerima penghargaan di PIKI Awards 2026 untuk kategori Tokoh Antikorupsi yang diterima oleh istri almarhum, Sri Widyaningsih.

Awalnya Sri mengaku dirinya sempat kaget saat pihak panitia mengabari bahwa mendiang suaminya terpilih untuk menerima penghargaan sebagai Tokoh Antikorupsi di PIKI Awards.

“Saya kaget saat dihubungi panitia. Mereka mengaku mendapatkan kontak saya dari Universitas Islam Indonesia (UII), tempat almarhum mengajar semasa hidupnya,” ujar Sri.

Sri mengutarakan ia bahagia bisa hadir langsung di Jakarta untuk menerima penghargaan. Ia lalu bmembagikan pengalamannya selama mendampingi Artidjo semasa hidup.

Menurut Sri untuk ukuran dirinya yang juga dibesarkan di tengah lingkungan penegak hukum, gaya hidup Artidjo amat jauh dari kemewahan.

“Sejak sebelum menikah saya sudah kaget dengan gaya hidup dia (almarhum Artidjo). Ini orang kok gaya hidupnya terlalu sederhana ya,” kenang Sri.

Namun berangkat dari kesederhanaan itulah Artidjo terbentuk menjadi sosok yang menjunjung tinggi integritas dan pantang menerima suap. Baginya suap adalah bentuk penghinaan terhadap penegakan hukum.

Lebih dari sembilan belas ribu kasus yang diputus Artidjo, hampir seribu di antaranya merupakan kasus korupsi. Dalam novel biografinya yang ditulis oleh Haidar Musyafa, Artidjo mengutarakan betapa antinya dia terhadap praktik suap yang kerap menggoda kalangan penegak hukum di kala itu.

“Sogok aku, kau kutangkap,” ancam Artidjo kepada pihak yang mencoba untuk menyuapnya.

Ingatan itulah yang membekas di hati Sri, keluarga, juga para sahabatnya.

“Jadi resepnya untuk melawan suap dan korupsi adalah hidup sederhana,” pungkas Sri.