Sebuah postingan instagram dari akun @coachXXXX memuat narasi terkait buyut dari Presiden Prabowo Subianto terlibat di masa akhir Perang Jawa (Perang Diponegoro) .
“Silsilah Hubungan Prabowo dan Trah Sigar: Garis keturunan Prabowo Subianto dan keluarga besar Sigar berasal dari jalur ibunya DORA MARIE SIGAR,” bunyi postingan tersebut.
Postingan yang dibuat pada tanggal 23 Mei 2026 ini menarasikan bahwa buyut Prabowo dari garis keturunan sang ibu, Dora Marie Sigar, merupakan seorang pria asal Minahasa, Sulawesi Utara, bernama Benyamin Thomas Sigar.
Benyamin Thomas Sigar dinarasikan merupakan seorang pria asal Langowan berpangkat Kapiten yang tergabung bersama dengan Pasukan Tulungan (Hulptroepen) kemudian dikirimkan penguasa Hindia Belanda ke Perang Jawa (1825-1830), untuk menghadapi Pangeran Diponegoro.
Di bawah pimpinan Mayor Besar (Groot Majoor) Tololiu Hermanus Willem Dotulong, Benyamin Sigar bersama Pasukan Tulungan dikerahkan ke Magelang untuk mengepung dan mengamankan wilayah sekitar tempat perundingan, dan menangkap Pangeran Diponegoro. Pasukan ini pula yang membawa Pangeran Diponegoro ke tempat pengasingan pertamanya di Minahasa.
Kemunculan kembali narasi ini ditanggapi bijak oleh praktisi hukum dan juga pemerhati masalah sosial dan politik Drs. Sonny Wuisan, S.H., M.H., C.LA, CRA, CTL. Dalam sebuah bincang santai di kawasan Kelapa Gading, Sabtu (23/5), Sonny menguraikan satu persatu poin kunci yang dinilai sengaja diembuskan kembali untuk mengganggu stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sonny meyakini bahwa Presiden Prabowo Subianto adalah seorang nasionalis murni yang mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa Indonesia. Apa yang terjadi di ranah dunia maya merupakan ekspresi ketidakpuasan dari sejumlah pihak atas gaya kepemipinan Prabowo Subianto yang dikenal tegas.
Dalam penjelasannya Sonny juga mengungkap keberadaan bangsa Belanda di Nusantara memang bertujuan untuk menguasai sumber produksi rempah-rempah, dan berhasil menguasai hampir seluruh wilayah kepulauan di Nusantara.
Kondisi Nusantara saat itu masih terpecah ke dalam kerajaan-kerajaan kecil, dengan identitas suku dan budaya yang beragam.
“Masing- masing daerah punya identitas sendiri, mulai dari Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatra. Republik Indonesia belum ada, tetapi bibit-bibit persatuan muncul di tahun 1928 ketika Sumpah Pemuda diikrarkan,” jelas Sonny Wuisan.
Direktur Eksekutif LBH Merah Putih 14 Februari 1946 ini lalu menjelaskan, peristiwa Perang Jawa yang melibatkan nama Kapiten Benyamin Sigar terjadi jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, bahkan terjadi satu abad sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan pada tahun 1928.
Saat itu pihak Belanda mengalami kerugian yang sangat besar akibat perang yang berlangsung lama, sehingga mereka memutuskan untuk melibatkan Pasukan Tulungan dari Minahasa dan pasukan bantuan dari Maluku menjelang fase akhir peperangan di Jawa.
“Saya kira peristiwa Pangeran Diponegoro, itu kalau tidak salah rentang 1825 sampai 1830, nah Republik Indonesia saat itu belum ada. Jadi kalau dibilang bahwa kakek buyut Pak Prabowo adalah seorang pendukung Belanda, saya kira iya pendukung Belanda karena memang saat itu belum ada (Republik) Indonesia,” buka Sonny.
Melindungi Diponegoro Awal Lahirnya Kerukunan
Meski demikian Sonny kemudian mengungkap sebuah peristiwa menyentuh di balik Perang Jawa yang populer di tengah masyarakat Minahasa, tentang relasi kemanusiaan yang terjalin di antara Groot Majoor Willem Dotulong dan Kapiten Benyamin Sigar dengan Pangeran Diponegoro.
“Kondisinya Pangeran Diponegoro saat itu justru diselamatkan (oleh Kapiten Sigar), agar tidak menjadi korban. Beliau (Diponegoro) justru dibawa ke tanah Minahasa bersama dengan para pengikutnya. Di antara Groot Majoor Willem Dotulong dan Kapiten Benyamin Sigar, kemudian di sisi lain kelompok Pangeran Diponegoro, ada sebuah perjanjian tidak tertulis untuk saling melindungi satu sama lain. Karena kesepakatan kedua kelompok ini di masa lalu terjadilah sebuah relasi yang sangat baik di antara masyarakat Jawa dalam hal ini keturunan Pangeran Diponegoro dengan masyarakat Minahasa hingga kini,” jelas Sonny.
Menurut Sonny bukti dari kesepakatan tak tertulis itu memang tidak pernah diceritakan di buku-buku sejarah Indonesia. Namun kebenaran cerita tersebut dapat diuji dan disaksikan langsung hingga saat ini, bagaimana keturunan Pangeran Diponegoro hidup rukun dengan masyarakat Minahasa hingga menikahi gadis-gadis setempat kemudian membentuk sebuah kelompok masyarakat Jawa di Tondano (Jaton).
“Kerukunan yang terjadi di antara keturunan Pangeran Diponegoro dan masyarakat setempat itu terjaga sangat kuat sampai dengan hari ini. Jadi kalau misalnya dibilang kakek buyut Prabowo adalah pendukung Belanda, saya kira karena dia (Benyamin Sigar) bergabung dengan Pasukan Tulungan Belanda, KNIL pada waktu itu, ya itu memang terjadi karena saat itu memang belum ada Republik Indonesia,” tegasnya.
Kritisi Kebijakan Bukan Personal
Dari penjelasan tersebut Sonny dengan tegas mengutarakan, narasi bahwa buyut Presiden Prabowo Subianto berperan besar dalam penaklukan Pangeran Diponegoro sejatinya dibuat bertujuan untuk mendiskreditkan kepemimpinan Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia saat ini. Ia meyakini tindakan itu diambil oleh pihak yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan saat ini.
Untuk itu ia mengajak agar publik lebih bijak dalam menelaah setiap infomasi yang dinilainya sengaja diciptakan kembali untuk kepentingan tertentu. Jika masih ada pihak yang tidak puas, Sonny mempersilahkan mereka untuk menempuh jalur konstitusional guna memilih presiden yang baru melalui proses pemilihan umum mendatang.
“Narasi ini dibuat lebih kepada tujuan politik. Kalau saya sih memiliki pemahaman bahwa kita harus mendukung pemerintahan yang sah saat ini. Kalau menghendaki Prabowo turun sebagai presiden, gunakan mekanisme yang sah sesuai dengan ketentuan konstitusi. Masyarakat bisa memilih presiden yang baru lewat proses pemilu,” tegasnya.
Ia lalu mengimbau masyarakat untuk bersama mengawal kebijakan yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo tanpa kehilangan sikap kritis, bukan menyerang secara personal.
“Kalau ingin menyampaikan kritik, saya kira kita diberikan kebebasan untuk menyampaikan kritik yang konstruktif. Saya kira pemerintah memang membutuhkan ini, suatu kritik yang disampaikan dengan solusinya yang bertujuan untuk membangun. Bukan misalnya menyampaikan kritik tanpa dasar atau bukti apalagi kalau sudah menyangkut hal-hal yang bersifat pribadi, itu namanya hanya menciptakan kegaduhan saja,” imbuhnya.
Lebih dalam ia menambahkan, Prabowo sangat mendengar dan terbuka terhadap kritik yang disampaikan oleh masyarakat maupun oposisi. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah pidato yang disampaikan Prabowo di ruang publik.
‘Pada saat Hari Buruh saja beliau (Prabowo) hadir langsung dan mendengarkan suara hati nurani para pekerja, suara kaum buruh, masyarakat luas. Berarti itu sangat posiitif dalam hal berdemokrasi,” tegas Sonny.
Berkaca dari kondisi saat ini Sonny Wuisan menilai kebijakan yang diinisiasi Presiden Prabowo bertujuan untuk dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat luas, contohnya MBG. Meski dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kekurangan menurut Sonny kondisi itu adalah suatu hal yang wajar.
“Kalau MBG saya kira itu sudah sangat baik sekali. Hanya saja ada kekurangan di sana sini itulah yang harus diperbaiki. Karena memang secara kebijakan itu sudah sangat benar, tapi secara pelaksanaanya itu diperlukan pengawasan yang lebih ketat supaya makanan yang sampai kepada siswa terjamin higienisnya, kandungan gizinya sesuai dan bahan baku yang digunakan juga harus berkualitas. Saya kira itu sudah sangat memenuhi persyaratan, hanya tinggal sisi teknisnya perlu diatur agar jangan sampai makanan yang sudah tidak layak sampai kepada siswa,” tutup Sonny Wuisan.
Narasi Lama
Dari penelusuran yang dilakukan oleh Diksiber pada 24 Mei 2026 mengutip pemberitaan salah satu media nasional, narasi negatif yang menyebut Prabowo Subianto merupakan keturunan Kapiten Benyamin Thomas Sigar dan berperan dalam penangkapan Pangeran Diponegoro diembuskan pertama kali pada tahun 2018 silam. Saat itu Prabowo belum menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia maupun Menteri Pertahanan RI.
Narasi miring tersebut kemudian langsung dibantah oleh jajaran pengurus DPP Partai Gerindra. Bahkan Partai Gerindra menegaskan Prabowo adalah seorang patriot sejati dan memiliki garis keturunan pejuang kemerdekaan Indonesia.
“Kedua paman Prabowo juga juga tewas dalam pertempuran Lengkong bersama Daan Mogot,” tegas pernyataan Andre Rosiade mewakili DPP Partai Gerindra.
