Bekasi – Dalam kesempatan tersebut, Gugun Gumelar, M.A., Ph.D., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, menyampaikan apresiasinya terhadap Kota Bekasi yang dinilai sebagai salah satu kota yang memiliki semangat toleransi yang kuat di tengah keberagaman masyarakatnya.

Menurutnya, toleransi harus menjadi budaya bersama yang dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah maupun warga. Ia menekankan pentingnya memperkuat semangat persaudaraan dan dialog antarumat beragama demi menjaga harmoni sosial di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Saya kira saya sangat mengapresiasi Kota Bekasi sebagai kota yang sangat toleran. Oleh karena itu masyarakatnya harus toleran, pemerintahnya juga harus toleran. Maka kita gaungkan persaudaraan,” ujar Gugun Gumelar dalam wawancara dengan awak media.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk saling merangkul dan membantu ketika ada umat beragama yang ingin membangun rumah ibadah, selama mengikuti aturan dan regulasi yang berlaku. Menurutnya, dialog menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan berbagai persoalan keberagaman.

“Kalau ada saudara kita membangun rumah ibadah, mari kita bantu. Dengan regulasi itu tidak apa-apa, yang penting kita dialog antarumat beragama. Jangan sampai kita memukul, tetapi harus merangkul saudara-saudara kita,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Gugun Gumelar juga menyoroti pentingnya peran generasi muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z, dalam menjaga kerukunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Ia menyebut bahwa hampir 60 persen masyarakat Indonesia saat ini berasal dari kalangan milenial dan Gen Z yang nantinya akan menjadi pemimpin masa depan bangsa.

“Generasi milenial dan Gen Z sangat penting, karena mereka adalah calon pemimpin masa depan Indonesia. Generasi Indonesia Emas 2045 adalah generasi yang rukun antarumat beragama,” katanya.

Ia menambahkan, di tangan generasi muda nantinya akan lahir para pemimpin bangsa, penggerak masyarakat, hingga pengambil kebijakan di berbagai tingkatan, mulai dari lingkungan RT/RW, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), hingga Kementerian Agama.

Karena itu, menurutnya, generasi muda harus dipersiapkan tidak hanya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dengan nilai-nilai kerukunan, toleransi, dan kebangsaan agar mampu menjaga persatuan Indonesia di masa depan.

Kegiatan dialog kebangsaan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi lintas agama sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga harmoni sosial demi mewujudkan Indonesia yang damai, maju, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045.