Jakarta, – Industri manufaktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam negeri menyatakan kesiapannya untuk mendukung target transisi energi nasional hingga 100 Gigawatt (GW). Kendati demikian, efektivitas penyerapan produk lokal sangat bergantung pada komitmen pemerintah dalam menyelaraskan kerangka kebijakan dan harmonisasi regulasi.
Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), I Made Sandika Dwiantara, saat menjadi pembicara dalam seminar INTI di ajang Pameran Indo Machinery 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Made menegaskan bahwa dari segi kualitas dan keandalan produk, panel surya buatan produsen lokal tidak kalah dari produk impor, termasuk produk asal Tiongkok. Selain itu, keunggulan utama industri dalam negeri terletak pada kesiapan layanan purna jual (after-sales service) serta kepastian pengiriman (delivery reliability) yang bebas dari hambatan larangan dan pembatasan (lartas) impor.
”Secara kualitas, antara produk lokal dan impor tidak jauh berbeda. Keunggulan kita ada pada keandalan rantai pasok dan kesiapan after-sales. Kami tetap konsisten berproduksi untuk memberikan keyakinan kepada pemerintah bahwa industri lokal siap mendukung peningkatan implementasi PLTS,” ujar Made.
Dampak Ekonomi Berganda (Multiplier Effect)
Menanggapi isu perbedaan harga produk, Made mengungkapkan bahwa selisih harga produk lokal saat ini telah mengalami penurunan signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran 30 persen, kini margin perbedaan harga dengan produk impor menyusut menjadi sekitar 15 persen.
Ia mengimbau agar pemerintah tidak melihat selisih harga tersebut secara sektoral semata, melainkan memperhitungkan multiplier effect bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.
”Penggunaan komponen dalam negeri menggerakkan rantai pasok lokal—mulai dari sel surya, frame, kaca, hingga junction box—sehingga dampak ekonomi ke belakang (backward linkage) jauh lebih besar dari selisih harga 15 persen itu dan justru menghasilkan surplus bagi negara,” jelasnya.
Buka Pintu Kolaborasi dan Transfer Teknologi
Guna mempercepat penetrasi industri nasional, APAMSI mendorong agar perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) difokuskan pada komponen inti, yaitu sel surya. Langkah ini dinilai strategis untuk memaksa pertumbuhan ekosistem industri pendukung di dalam negeri sebelum membidik pasar ekspor.
Di sisi lain, industri lokal bersikap inklusif dengan membuka kemitraan strategis bersama investor maupun produsen asing.
”Kami tidak eksklusif. Kami mengajak mitra luar, seperti dari Tiongkok, untuk datang dan berkolaborasi. Tujuannya adalah akuisisi dan transfer of technology agar transisi teknologi kita berjalan cepat tanpa harus mulai dari nol,” tambah Made.
Di akhir pemaparannya, Made mengapresiasi terobosan Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan PLN yang terus membenahi regulasi. Ia berharap adanya pengawalan ketat lintas kementerian untuk membatasi impor secara bertahap guna mewujudkan kemandirian energi nasional.