Jakarta – Pemerintah resmi memasuki babak baru dalam program hilirisasi nasional dengan memulai pembangunan 13 proyek strategis senilai sekitar Rp116 triliun pada tahun ini. Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam sekaligus mendorong kemandirian ekonomi Indonesia.
Peresmian groundbreaking Danantara Fase II 2026 dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Cilacap. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi jangka panjang guna meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Hari ini cukup bersejarah, kita memulai hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis,” ujar Prabowo.
Ia menekankan, pemerintah tidak akan berhenti pada fase ini. Sejumlah proyek lanjutan telah disiapkan untuk memperluas hilirisasi di berbagai sektor, mulai dari energi hingga pertanian.
Program ini turut diperkuat melalui konsolidasi pembiayaan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pihaknya berfokus mengoptimalkan aset strategis BUMN agar proyek hilirisasi memiliki fondasi pendanaan yang kokoh.
Menurut Rosan, sinergi antar-lembaga menjadi kunci agar proyek berskala besar tersebut berjalan terukur sekaligus memberikan dampak ekonomi berkelanjutan.
Di sektor perkebunan, implementasi hilirisasi tahap kedua mulai terlihat melalui pembangunan fasilitas pengolahan kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei. Proyek ini digarap oleh PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo sebagai bagian dari transformasi industri sawit nasional.
Direktur Bisnis PT Perkebunan Nusantara III, Ryanto Wisnuardhy, menyebut pengembangan industri turunan sawit menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor energi, khususnya bahan bakar solar.
Kebutuhan solar kita masih sangat besar. Melalui biodiesel berbasis sawit, kita berupaya memperkuat pasokan dari dalam negeri,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut diproyeksikan meningkat seiring rencana implementasi program campuran biodiesel B50 dalam waktu dekat.
Secara teknis, fasilitas di Sei Mangkei dirancang sebagai kawasan industri terpadu yang mencakup sektor pangan dan energi. Direktur PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menjelaskan bahwa pabrik oleofood akan memproduksi margarin dan shortening dengan kapasitas 35.000 ton per tahun, serta cocoa butter substitusi sekitar 25.000 ton per tahun.
Selain itu, pabrik biodiesel berkapasitas 450.000 ton per tahun juga tengah dibangun dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028.
Menurut Jatmiko, pengolahan produk sawit di dalam negeri mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan dibandingkan penjualan bahan mentah. “Jika diolah, nilai ekonominya bisa meningkat hingga belasan kali lipat,” katanya.
Pemerintah daerah pun menyambut positif proyek tersebut. Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih, menilai pembangunan ini dapat mendorong transformasi ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru.
“Hilirisasi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mengubah struktur ekonomi dari hulu ke hilir yang lebih modern,” ujarnya.
Dengan dimulainya proyek-proyek ini, pemerintah berharap hilirisasi tidak sekadar menjadi program industrialisasi, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi kedaulatan energi serta penguatan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
