Ruang bersama justru memungkinkan seseorang mengkritik pemerintah tanpa dianggap sebagai musuh negara. Pada saat yang sama, seseorang dapat mendukung kebijakan pemerintah yang dianggap baik tanpa kehilangan hak untuk mengkritik kebijakan lainnya. Kita harus kembali membiasakan diri dengan sikap seperti itu.

Sebab persoalan terbesar dari polarisasi bukan sekadar perbedaan pilihan politik. Polarisasi menjadi berbahaya ketika kita kehilangan kemampuan melihat orang yang berbeda pandangan sebagai sesama warga negara.

Media sosial membuat tantangan itu semakin besar. Algoritma cenderung mempertemukan kita dengan pandangan yang kita sukai. Lama-kelamaan kita merasa kelompok sendiri paling benar dan pihak lain selalu salah. Ruang digital akhirnya dipenuhi kompetisi untuk memenangkan perdebatan, bukan menemukan jalan keluar.

Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk memutus kebiasaan tersebut.
Anak muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen kegaduhan politik. Kita harus menjadi produsen gagasan. Kritik harus tetap keras, tetapi gagasan harus lebih keras terdengar.

Menggalang Persatuan Nasional

Ada satu pertanyaan sederhana yang bisa menjadi titik temu kita: Indonesia seperti apa yang ingin kita wariskan?

Saya kira sebagian besar dari kita menginginkan hal yang tidak jauh berbeda. Indonesia yang ekonominya kuat, rakyatnya sejahtera, hukumnya adil, demokrasinya sehat, pendidikannya berkualitas, dan generasi mudanya memiliki kesempatan untuk maju.

Untuk mencapai itu, tidak ada satu kelompok yang dapat bekerja sendirian.

Indonesia bukan hanya milik pemerintah. Bukan milik oposisi. Bukan milik satu partai, organisasi, kelompok agama, daerah, ataupun generasi tertentu.

Indonesia adalah rumah bersama.

Pemerintah karena itu harus bersedia mendengar suara yang tidak menyenangkan. Oposisi tidak harus menolak seluruh kebijakan pemerintah. Masyarakat sipil harus kritis sekaligus menawarkan jalan keluar. Mahasiswa harus menjaga independensi dan keberanian intelektualnya. Media harus menjaga kualitas ruang publik.

Kita boleh mengambil posisi berbeda, tetapi kepentingan nasional seharusnya tetap menjadi garis yang mempertemukan semuanya.

Kemerdekaan dan Kesediaan untuk Bersama

Setiap peringatan kemerdekaan sebenarnya memperlihatkan bahwa ruang bersama itu masih ada.

Ketika bencana terjadi, kita tidak bertanya pilihan politik seseorang sebelum memberikan bantuan. Ketika atlet Indonesia bertanding membawa Merah Putih, kita tidak mempersoalkan afiliasi politiknya. Ketika Indonesia Raya dikumandangkan, kita berdiri bersama.

Pada momen seperti itu, sekat-sekat yang biasanya memenuhi ruang publik tiba-tiba menjadi tidak penting. Artinya, persatuan itu tidak hilang. Ia mungkin hanya tertutup oleh kebisingan politik sehari-hari.

Pada usia 81 tahun, Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok. Lebih banyak percakapan daripada prasangka. Lebih banyak kolaborasi daripada kecurigaan. Kita tidak harus sepakat tentang semuanya.

Mahasiswa tetap harus kritis. Pemerintah tetap harus dikontrol. Oposisi tetap diperlukan. Masyarakat sipil harus tetap bersuara. Tetapi seluruh perbedaan itu harus diletakkan dalam satu kesadaran bahwa republik ini terlalu berharga untuk terus-menerus dihabiskan dalam pertengkaran antarkelompok.

Para pendiri bangsa pernah menunjukkan bahwa orang-orang dengan kepentingan dan pemikiran berbeda dapat menemukan satu ruang bersama ketika kepentingan Indonesia ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Kemerdekaan hari ini bukan lagi sekadar soal membebaskan bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti menjaga agar perbedaan tidak membuat kita kehilangan persaudaraan.

Kita boleh berbeda tentang bagaimana Indonesia harus dibangun. Kita boleh berbeda dalam menilai pemerintah. Kita bahkan boleh berada di sisi politik yang berseberangan. Tetapi setelah semua perdebatan selesai, kita tetap harus mampu kembali ke rumah yang sama.

Rumah itu bernama Indonesia.