Oleh: Nazmul Watan
Aktivist, Direktur Digdaya Indonesia, Sekretaris Jenderal PP KAMMI
Jakarta, – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka memberi kita banyak alasan untuk bersyukur. Tetapi kemerdekaan semestinya tidak hanya dirayakan dengan bendera, upacara, perlombaan, dan berbagai seremoni sepanjang Agustus.
81 Tahun Indonesia juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali keadaan bangsa hari ini. Salah satunya tentang sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan publik kita: kemampuan untuk tetap bersama di tengah perbedaan.
Beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa mudah masyarakat terbelah oleh politik. Pemilu selesai, tetapi sebagian ketegangan yang lahir selama kontestasi tidak selalu ikut selesai. Perbedaan pilihan politik kadang masih menentukan cara seseorang melihat orang lain.
Di media sosial, persoalannya bahkan lebih rumit. Satu pernyataan cukup untuk membuat seseorang dicap berada di kubu tertentu. Kritik kepada pemerintah dianggap sebagai permusuhan. Sebaliknya, mengapresiasi kebijakan pemerintah dengan mudah dianggap sebagai keberpihakan politik.
Kita akhirnya terlalu sibuk menentukan siapa berada di sebelah mana. Padahal, Indonesia tidak pernah dibangun dari keseragaman.
Para pendiri republik berasal dari latar belakang daerah, agama, organisasi, dan pemikiran politik yang berbeda. Mereka berdebat, bahkan dalam banyak hal memiliki pandangan yang sangat berseberangan. Namun, mereka mengetahui kapan harus berhenti memperjuangkan kepentingan kelompok dan mulai memperjuangkan kepentingan yang lebih besar. Kepentingan itu bernama Indonesia.
Polarisasi Tidak Boleh Kita Warisan
Perbedaan bukan persoalan. Dalam demokrasi, perbedaan justru diperlukan. Pemerintah membutuhkan kritik. Masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi. Oposisi diperlukan untuk mengawasi kekuasaan. Mahasiswa dan masyarakat sipil juga harus tetap memiliki kebebasan untuk menyampaikan koreksi. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi ketidakpercayaan.
Polarisasi politik tidak boleh terus diwariskan dari satu pemilu menuju pemilu berikutnya. Kita tidak bisa menghabiskan terlalu banyak energi bangsa hanya untuk memperpanjang pertengkaran yang sebenarnya sudah kehilangan konteksnya. Ada pekerjaan yang jauh lebih mendesak.
Masyarakat berbicara tentang harga kebutuhan pokok dan daya beli. Anak-anak muda memikirkan lapangan pekerjaan dan masa depan mereka. Kita masih menghadapi persoalan kualitas pendidikan, ketimpangan pembangunan, korupsi, ketahanan pangan, pelayanan kesehatan, hingga tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Persoalan itu tidak bertanya siapa yang kita pilih dalam pemilu terakhir. Karena itu, kepentingan nasional harus kembali menjadi titik temu.
Kritik Tidak Sama dengan Permusuhan
Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa, saya percaya kritik harus tetap hidup.
Mahasiswa kehilangan salah satu fungsi pentingnya ketika tidak lagi berani mengoreksi kekuasaan. Sejarah republik memperlihatkan bagaimana mahasiswa dan masyarakat sipil berkali-kali mengambil peran ketika kehidupan kebangsaan membutuhkan koreksi. Namun, kritik juga harus terus meningkatkan kualitasnya.
Gerakan mahasiswa tidak cukup hanya mengatakan sebuah kebijakan salah. Kita perlu menjelaskan mengapa kebijakan itu salah, siapa yang terdampak, dan apa pilihan kebijakan yang lebih baik.
Pada sisi lain, pemerintah juga harus semakin terbuka terhadap kritik. Suara yang berbeda tidak selalu berarti permusuhan. Demonstrasi tidak selalu berarti kebencian terhadap pemerintah. Kegelisahan masyarakat bahkan dapat menjadi alarm awal sebelum sebuah persoalan berkembang lebih besar.
Karena itu, ruang dialog tidak seharusnya dibuka setelah kegaduhan terjadi. Dialog harus menjadi kebiasaan dalam demokrasi.
Pemerintah, mahasiswa, akademisi, organisasi masyarakat, dunia usaha, media, tokoh agama, dan kelompok masyarakat lainnya harus memiliki cukup banyak ruang untuk bertemu. Tidak harus selalu berakhir dengan kesepakatan. Setidaknya kita mengetahui alasan mengapa pihak lain memiliki pandangan berbeda.
Menemukan Kembali Ruang Bersama
Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak ruang bersama. Ruang bersama bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Bukan pula ruang untuk menjinakkan kritik atas nama stabilitas atau persatuan.
Ruang bersama justru memungkinkan seseorang mengkritik pemerintah tanpa dianggap sebagai musuh negara. Pada saat yang sama, seseorang dapat mendukung kebijakan pemerintah yang dianggap baik tanpa kehilangan hak untuk mengkritik kebijakan lainnya. Kita harus kembali membiasakan diri dengan sikap seperti itu.
Sebab persoalan terbesar dari polarisasi bukan sekadar perbedaan pilihan politik. Polarisasi menjadi berbahaya ketika kita kehilangan kemampuan melihat orang yang berbeda pandangan sebagai sesama warga negara.
Media sosial membuat tantangan itu semakin besar. Algoritma cenderung mempertemukan kita dengan pandangan yang kita sukai. Lama-kelamaan kita merasa kelompok sendiri paling benar dan pihak lain selalu salah. Ruang digital akhirnya dipenuhi kompetisi untuk memenangkan perdebatan, bukan menemukan jalan keluar.
Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk memutus kebiasaan tersebut.
Anak muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen kegaduhan politik. Kita harus menjadi produsen gagasan. Kritik harus tetap keras, tetapi gagasan harus lebih keras terdengar.
Menggalang Persatuan Nasional
Ada satu pertanyaan sederhana yang bisa menjadi titik temu kita: Indonesia seperti apa yang ingin kita wariskan?
Saya kira sebagian besar dari kita menginginkan hal yang tidak jauh berbeda. Indonesia yang ekonominya kuat, rakyatnya sejahtera, hukumnya adil, demokrasinya sehat, pendidikannya berkualitas, dan generasi mudanya memiliki kesempatan untuk maju.
Untuk mencapai itu, tidak ada satu kelompok yang dapat bekerja sendirian.
Indonesia bukan hanya milik pemerintah. Bukan milik oposisi. Bukan milik satu partai, organisasi, kelompok agama, daerah, ataupun generasi tertentu.
Indonesia adalah rumah bersama.
Pemerintah karena itu harus bersedia mendengar suara yang tidak menyenangkan. Oposisi tidak harus menolak seluruh kebijakan pemerintah. Masyarakat sipil harus kritis sekaligus menawarkan jalan keluar. Mahasiswa harus menjaga independensi dan keberanian intelektualnya. Media harus menjaga kualitas ruang publik.
Kita boleh mengambil posisi berbeda, tetapi kepentingan nasional seharusnya tetap menjadi garis yang mempertemukan semuanya.
Kemerdekaan dan Kesediaan untuk Bersama
Setiap peringatan kemerdekaan sebenarnya memperlihatkan bahwa ruang bersama itu masih ada.
Ketika bencana terjadi, kita tidak bertanya pilihan politik seseorang sebelum memberikan bantuan. Ketika atlet Indonesia bertanding membawa Merah Putih, kita tidak mempersoalkan afiliasi politiknya. Ketika Indonesia Raya dikumandangkan, kita berdiri bersama.
Pada momen seperti itu, sekat-sekat yang biasanya memenuhi ruang publik tiba-tiba menjadi tidak penting. Artinya, persatuan itu tidak hilang. Ia mungkin hanya tertutup oleh kebisingan politik sehari-hari.
Pada usia 81 tahun, Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok. Lebih banyak percakapan daripada prasangka. Lebih banyak kolaborasi daripada kecurigaan. Kita tidak harus sepakat tentang semuanya.
Mahasiswa tetap harus kritis. Pemerintah tetap harus dikontrol. Oposisi tetap diperlukan. Masyarakat sipil harus tetap bersuara. Tetapi seluruh perbedaan itu harus diletakkan dalam satu kesadaran bahwa republik ini terlalu berharga untuk terus-menerus dihabiskan dalam pertengkaran antarkelompok.
Para pendiri bangsa pernah menunjukkan bahwa orang-orang dengan kepentingan dan pemikiran berbeda dapat menemukan satu ruang bersama ketika kepentingan Indonesia ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
Kemerdekaan hari ini bukan lagi sekadar soal membebaskan bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti menjaga agar perbedaan tidak membuat kita kehilangan persaudaraan.
Kita boleh berbeda tentang bagaimana Indonesia harus dibangun. Kita boleh berbeda dalam menilai pemerintah. Kita bahkan boleh berada di sisi politik yang berseberangan. Tetapi setelah semua perdebatan selesai, kita tetap harus mampu kembali ke rumah yang sama.
Rumah itu bernama Indonesia.