Jakarta, – Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki kekayaan alam, budaya, tradisi, serta potensi ekonomi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat. Namun, potensi tersebut dinilai masih membutuhkan sentuhan konsep pembangunan yang lebih inovatif, modern, dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Yori Antara dari Arsitektur Budaya dalam wawancara awak media pada kegiatan Simposium Nasional Nusa Tenggara Timur yang berlangsung Kamis (22/10/2026), di Auditorium Lantai 2 Perpustakaan, Jakarta.
Menurut Yori Antar, NTT sesungguhnya memiliki berbagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mulai dari keindahan alam, kain tenun tradisional, hingga potensi sandang, pangan, dan papan yang belum sepenuhnya digali serta dikembangkan secara optimal.
Ia menilai, upaya mengentaskan kemiskinan di NTT tidak harus selalu dimulai dengan mendatangkan sumber daya dari luar daerah. Sebab, kekayaan dan sumber daya lokal sudah tersedia dan dapat menjadi fondasi pembangunan ekonomi masyarakat.
“NTT ini sangat kaya dengan keindahan alamnya, kain tenunnya, serta potensi sandang, pangan, dan papan yang masih belum banyak diangkat. Sebenarnya, untuk mengentaskan kemiskinan di NTT tidak terlalu sulit karena semuanya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita menggali dan mengembangkannya,” ungkap Yori.
Ia juga mengapresiasi perkembangan Labuan Bajo yang kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Meningkatnya kunjungan wisatawan serta berkembangnya fasilitas pariwisata dinilai menjadi bukti bahwa pengembangan potensi daerah dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Namun, menurutnya, pembangunan pariwisata NTT tidak boleh berhenti hanya di Labuan Bajo. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memperluas pengembangan destinasi ke wilayah lain, seperti Ende dan Maumere.
Yori menawarkan gagasan menjadikan Ende sebagai destinasi wisata sejarah dan kebangsaan karena dikenal sebagai kota kelahiran Pancasila. Sementara itu, Maumere berpotensi dikembangkan sebagai pusat wisata religi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Setelah Labuan Bajo, apa lagi yang perlu kita tarik? Kita bisa mengembangkan Ende sebagai kota kelahiran Pancasila. Kita juga bisa menjadikan Maumere sebagai destinasi wisata religi. Jadi, kita membutuhkan konsep-konsep yang lebih kekinian untuk memajukan NTT,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yori Antara menekankan pentingnya membangun Jalur Tenun NTT sebagai salah satu strategi memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas, termasuk pasar internasional.
Menurutnya, kain tenun bukan sekadar produk kerajinan tradisional, melainkan identitas, sejarah, filosofi, dan warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara serius.
Melalui pengembangan jalur wisata berbasis tenun, wisatawan dapat mengenal langsung proses pembuatan kain, kehidupan masyarakat adat, tradisi lokal, hingga berbagai kekayaan budaya yang tersebar di wilayah kepulauan NTT.
Ia mencontohkan Desa Adat Wae Rebo yang telah dikenal wisatawan mancanegara. Bahkan, banyak wisatawan kini datang langsung melalui Labuan Bajo untuk mengunjungi desa adat tersebut.
Selain Wae Rebo, NTT masih memiliki banyak destinasi budaya lainnya, seperti Todo dan berbagai kampung adat yang menyimpan keunikan tradisi serta kearifan lokal.
“Desa adat Wae Rebo saja sekarang sudah banyak dikunjungi wisatawan. Bahkan, wisatawan mancanegara datang langsung ke Labuan Bajo untuk melihat Wae Rebo. Padahal, masih banyak desa adat dan kekayaan budaya lainnya di NTT yang bisa kita angkat,” tuturnya.
Yori juga mengingatkan bahwa karakter geografis NTT sebagai wilayah kepulauan tidak boleh dipandang sebagai hambatan pembangunan. Sebaliknya, laut harus menjadi penghubung antarpulau yang memperkuat konektivitas, perdagangan, pariwisata, dan interaksi kebudayaan masyarakat.
Menurutnya, setiap pulau memiliki keunikan dan potensi masing-masing yang dapat dikembangkan menjadi satu kesatuan kekuatan ekonomi dan pariwisata daerah.
Ia menegaskan bahwa pembangunan harus tetap memperhatikan kelestarian budaya dan lingkungan. Tradisi masyarakat adat yang selama ini menjaga warisan leluhur merupakan aset penting yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan investasi semata.
Yori mengambil contoh perkembangan Labuan Bajo. Jika dahulu jumlah kapal pinisi yang beroperasi masih sekitar 100 unit, kini jumlahnya disebut telah meningkat menjadi sekitar 800 unit.
Selain itu, perkembangan fasilitas perhotelan juga semakin pesat. Dari yang sebelumnya belum memiliki hotel berbintang lima, kini terdapat lebih dari 15 hotel berbintang lima.
Perkembangan tersebut turut memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat yang disebut mencapai sekitar dua setengah kali lipat.
Meski demikian, ia mengingatkan agar keberhasilan Labuan Bajo tidak hanya menjadi cerita pertumbuhan investasi, tetapi juga harus menjadi pembelajaran dalam membangun pariwisata yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Yori Antara turut menyoroti masuknya investor, termasuk investor asing, ke sejumlah wilayah di NTT. Menurutnya, investasi memang diperlukan untuk mempercepat pembangunan daerah, tetapi harus diimbangi dengan perlindungan kepentingan masyarakat lokal.
Jangan sampai kekayaan alam dan budaya NTT berkembang menjadi komoditas pariwisata yang justru lebih banyak dinikmati pihak luar, sementara masyarakat setempat hanya menjadi penonton.
“Kita harus mengembangkan wisata yang berbasis budaya dan alam. Jangan sampai kekayaan yang kita miliki justru rusak karena pengembangan yang tidak memperhatikan kelestarian. Paling tidak, kita sebagai masyarakat Indonesia harus menjadi tuan rumah sendiri,” tegasnya.
Ia berharap pengembangan pariwisata NTT ke depan tidak hanya berorientasi pada pembangunan hotel, infrastruktur, dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi kreatif, UMKM, perajin tenun, pelaku seni, serta masyarakat adat.
Dengan konsep pembangunan yang terintegrasi, mulai dari Labuan Bajo, Ende, Maumere, hingga berbagai destinasi budaya lainnya, NTT diyakini mampu menjadi salah satu pusat pertumbuhan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.
Simposium Nasional Nusa Tenggara Timur diharapkan menjadi ruang untuk melahirkan gagasan dan strategi konkret dalam mengoptimalkan kekayaan alam, budaya, serta potensi ekonomi daerah demi mewujudkan NTT yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing tanpa kehilangan jati diri budayanya.