Jakarta, – Semangat menyongsong 500 tahun Jakarta diwujudkan melalui Simposium Kebudayaan Jakarta 2026 bertajuk “Sinergi Kerja Kebudayaan Menuju 5 Abad Jakarta: Memperkuat Bahasa, Tradisi, dan Identitas Kota.” pada hari Kamis, (9/7/2026) bertempat Taman Ismail Marjuki Jakarta.

Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi berbagai lembaga untuk merumuskan langkah konkret dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan bahasa serta budaya Betawi sebagai identitas utama Ibu Kota.

Panitia pelaksana sekaligus dosen Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), A. Supriyana, mengatakan simposium ini merupakan momentum yang telah lama dinantikan karena mempertemukan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pelestarian bahasa dan budaya Betawi.

“Ini merupakan momen yang kami tunggu-tunggu. Untuk pertama kalinya berbagai lembaga yang memiliki kepentingan yang sama berkumpul, mulai dari Universitas Negeri Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi, Kantor Bahasa, hingga berbagai institusi lainnya. Harapan kami, pertemuan ini tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi melahirkan tindak lanjut yang nyata,” ujarnya.

Menurut Supriyana, salah satu program yang sedang dijalankan UNJ adalah penelitian mengenai toponimi atau sejarah penamaan kawasan-kawasan di Jakarta, seperti Dukuh Atas, Rawamangun, Rawa Belong, dan berbagai nama tempat lainnya. Penelitian tersebut bertujuan menggali sejarah dan nilai budaya yang selama ini mulai terlupakan oleh masyarakat.

Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam ruang publik. Menurutnya, penggunaan istilah asing pada papan nama, petunjuk jalan, maupun layanan publik sebaiknya tetap mengutamakan bahasa Indonesia dan memberikan ruang bagi bahasa daerah sebagai bentuk pelestarian budaya.

“Prinsipnya bukan menolak bahasa asing, tetapi kita harus menguasai bahasa asing, menggunakan bahasa Indonesia, dan melestarikan bahasa daerah. Di wilayah Betawi, identitas lokal harus tetap terlihat melalui bahasa yang digunakan di ruang publik,” jelasnya.

Dalam simposium tersebut juga mengemuka gagasan penyusunan kaidah atau tata bahasa Betawi yang lebih baku agar dapat menjadi pedoman bersama. Selama ini bahasa Betawi memiliki beragam dialek, mulai dari Betawi Tengah hingga Betawi Pinggiran yang berkembang di Jakarta, Bekasi, dan Karawang.

Supriyana menilai penyusunan kaidah bahasa Betawi menjadi langkah penting sebelum mendorong pembentukan program studi atau mata pelajaran khusus di dunia pendidikan.

“Yang terpenting saat ini adalah memperkuat kajian akademik dan memperluas pembelajaran bahasa Betawi melalui mata kuliah di perguruan tinggi. Jika nantinya sudah menjadi kebutuhan dalam dunia pendidikan, tentu akan lebih mudah dikembangkan menjadi program studi maupun mata pelajaran di sekolah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama simposium bukan sekadar menghasilkan wacana, melainkan membangun sinergi antarlembaga agar bahasa Betawi tetap hidup, digunakan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Bahasa Betawi adalah bagian penting dari identitas budaya Jakarta. Jangan sampai bahasa ini kehilangan penuturnya dan menjadi bahasa yang mati. Melalui kolaborasi ini kami ingin memastikan bahasa Betawi tetap hidup sebagai warisan budaya menuju lima abad Jakarta,” pungkasnya.

Simposium Kebudayaan Jakarta 2026 diharapkan menjadi titik awal lahirnya kebijakan, program pendidikan, penelitian, serta gerakan pelestarian bahasa dan budaya Betawi yang berkelanjutan, sehingga identitas Jakarta sebagai kota bersejarah tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.