Jakarta, – Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) mendorong pencak silat tidak hanya berkembang sebagai olahraga prestasi, tetapi juga menjadi salah satu instrumen diplomasi olahraga Indonesia di tingkat internasional, Minggu (13/9/2026) JICC Jakarta.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PB IPSI, Abdul Karim Aljufri, dalam wawancara media pada gelaran Indonesia Sport Summit 2026. Menurutnya, upaya membawa pencak silat semakin mendunia harus dimulai dari dalam negeri, terutama dengan membangun kecintaan masyarakat Indonesia terhadap pencak silat sebagai warisan budaya sekaligus cabang olahraga prestasi.

“Yang paling kami butuhkan supaya pencak silat lebih mendunia adalah kecintaan masyarakat Indonesia sendiri kepada pencak silat,” ujar Abdul Karim.

Ia mengapresiasi dukungan pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Kebudayaan, serta Kementerian Luar Negeri yang dinilai semakin membuka ruang bagi pencak silat untuk berkembang dan diperkenalkan lebih luas ke dunia internasional.

Namun, dukungan pemerintah tersebut menurutnya akan sulit mencapai hasil maksimal apabila belum diikuti dengan kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap pencak silat.

“Alhamdulillah sekarang pemerintah sangat mendukung kami. Tetapi itu tidak akan bisa maksimal kalau di nasional sendiri masyarakat Indonesianya tidak mencintai pencak silat,” katanya.

Menghapus Stigma Pencak Silat sebagai Olahraga Kampungan

Abdul Karim juga menyoroti masih adanya stigma di sebagian masyarakat yang memandang pencak silat sebagai olahraga tradisional yang identik dengan lingkungan kampung.

Menurutnya, anggapan tersebut justru harus diubah. Pencak silat memang lahir dan tumbuh dari akar budaya masyarakat Indonesia, tetapi hal itu tidak berarti pencak silat merupakan olahraga yang tertinggal.

“Pencak silat memang olahraga dari kampung, tetapi bukan kampungan,” tegasnya.

Ia menilai pencak silat memiliki potensi besar untuk menjadi olahraga modern dengan tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai budaya Indonesia. Karena itu, pekerjaan rumah terbesar bukan sekadar bagaimana memasukkan pencak silat ke sekolah, melainkan bagaimana membangun pemahaman masyarakat mengenai jati diri pencak silat.

“Pertanyaannya simpel, di benak teman-teman sendiri pencak silat itu seperti apa? Kita harus bisa menghilangkan stigma buruk itu,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman negara lain seperti Jepang dan Korea yang mampu memperkenalkan bela diri mereka secara luas menjadi pembelajaran penting. Namun, PB IPSI tidak semata-mata ingin meniru pola negara lain, melainkan membangun sistem pengembangan pencak silat yang sesuai dengan karakter Indonesia.

Pembinaan Atlet Belum Merata

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PB IPSI, Sumarno, S.H., M.M., mengakui bahwa sistem pembinaan pencak silat sebenarnya telah tersedia di berbagai daerah. Persoalannya adalah pelaksanaan dan kualitas pembinaan yang belum merata.

“Pembinanya sebenarnya sudah ada, cuma belum merata dan belum bagus. Salah satu kelemahan kita adalah SDM pelatih,” ujar Sumarno.

Ia menjelaskan, tantangan pembinaan menjadi semakin besar ketika pencak silat ingin diperluas ke sekolah-sekolah. Jumlah sekolah dasar dan sekolah menengah yang sangat banyak membutuhkan ketersediaan pelatih yang memadai, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi.

Karena itu, PB IPSI kini mendorong penguatan pembinaan pencak silat di lingkungan pendidikan.

Menurut Sumarno, terdapat peluang besar melalui program sekolah unggulan, termasuk Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, yang dapat menjadi bagian dari pengembangan kegiatan ekstrakurikuler pencak silat.

“Sekolah Garuda ekskulnya hanya dua, pencak silat dan Pramuka. Begitu juga Sekolah Rakyat, kita akan mulai dari sana,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pencak silat sebenarnya sudah cukup banyak hadir sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah negeri. Namun, pelaksanaannya belum memiliki standar yang seragam.

Karena itu, standardisasi menjadi salah satu fokus PB IPSI, terutama menyangkut kompetensi pelatih, metode pembinaan, serta identitas pencak silat yang harus diperkenalkan kepada generasi muda.

Perkuat Pelatih dan Kompetisi

Sumarno menegaskan, pembenahan pembinaan tidak hanya menyangkut peningkatan jumlah sekolah yang memiliki ekstrakurikuler pencak silat. Kualitas pelatih dan sistem kompetisi juga harus diperkuat.

“Yang kita perbaiki sekarang pertama pelatihnya, kemudian kompetisinya,” ujarnya.

Menurutnya, kompetisi pencak silat selama ini masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk ketergantungan terhadap kemampuan penyelenggara dalam mencari dukungan pendanaan dan sponsor.

Kondisi tersebut perlu dibenahi agar sistem kompetisi pencak silat dapat berlangsung secara lebih terstruktur, berkelanjutan, dan memberikan ruang yang lebih besar bagi atlet-atlet muda untuk berkembang.

Sumarno menilai keberadaan berbagai ajang olahraga pelajar dan mahasiswa seperti O2SN, Popnas hingga kompetisi mahasiswa sebenarnya telah memberikan wadah bagi pencak silat. Tantangannya adalah memastikan akses pembinaan dan kompetisi tersebut dapat dirasakan secara merata di seluruh daerah.

“Sekarang setiap sekolah sudah mulai membuka diri. Gara-gara O2SN, Popnas, dan untuk mahasiswa juga ada wadahnya. Ini sebenarnya sudah ada, tinggal bagaimana membuatnya lebih merata,” katanya.

Menuju Pencak Silat Mendunia

PB IPSI optimistis penguatan ekosistem pencak silat dari tingkat sekolah, pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih hingga kompetisi nasional akan menjadi fondasi penting untuk membawa pencak silat ke panggung dunia.

Bagi PB IPSI, pencak silat bukan hanya tentang medali dan prestasi olahraga. Lebih jauh, pencak silat merupakan bagian dari identitas bangsa yang dapat digunakan untuk memperkenalkan karakter, budaya, dan nilai-nilai Indonesia kepada masyarakat internasional.

Karena itu, cita-cita menjadikan pencak silat sebagai olahraga yang mendunia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, PB IPSI, perguruan pencak silat, sekolah, pelatih, atlet, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan olahraga.

Dengan membangun kecintaan masyarakat di dalam negeri sekaligus memperkuat sistem pembinaan secara profesional, pencak silat diharapkan mampu naik kelas—dari olahraga yang berakar kuat pada tradisi Indonesia menjadi cabang olahraga berkelas dunia sekaligus instrumen diplomasi budaya dan olahraga Indonesia di kancah internasional.