Jakarta, – Kabar duka atas wafatnya seniman sekaligus budayawan besar Indonesia, Mohammad Guruh Irianto Putra Soekarnoputra bin Soekarno, pada Sabtu, 26 September 2026, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, insan seni, serta berbagai kalangan yang selama ini mengenal dan mengagumi karya-karyanya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi X, Once Mekel, turut menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Guruh Soekarnoputra yang lahir pada 14 Januari 1953 dan wafat pada usia 73 tahun.
Once berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi kepergian sosok besar yang telah memberikan kontribusi panjang bagi Indonesia, khususnya dalam bidang seni dan kebudayaan.
“Untuk keluarga almarhum, semoga diberikan kesabaran dan ketabahan. Guruh Soekarnoputra, semoga segala peran dan apa yang telah diberikan untuk Indonesia dan demokrasi Indonesia, khususnya buat PDI Perjuangan, tidak pernah dilupakan,” ujar Once Mekel saat ditemui awak media.
Menurut Once, warisan terbesar Guruh bukan hanya berupa kenangan, melainkan karya-karya seni dan kebudayaan yang memiliki nilai penting untuk terus dirawat, dimainkan, dipentaskan, serta diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Ia menilai karya-karya Guruh memiliki keunggulan dan makna yang kuat sehingga layak menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda, terutama mereka yang bergerak di bidang seni dan kebudayaan.
“Kelak mendapatkan sosok yang bisa dijadikan inspirasi besar, khususnya di dunia kesenian dan kebudayaan. Karya-karya beliau harus kita rawat supaya dimainkan, dipergelarkan untuk generasi dari masa ke masa, sebab karyanya sangat bermakna dan memiliki keunggulan-keunggulan yang sampai saat ini saya jarang temui,” ungkapnya.
Once juga mengenang Guruh sebagai sosok seniman dan budayawan tulen yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan kreativitas dan kebudayaan Indonesia.
Ia bahkan menggambarkan Guruh sebagai “matahari kebudayaan Indonesia”, sosok yang mampu menarik banyak orang kreatif untuk berkumpul dan berproses di sekelilingnya, terutama pada era ketika Guruh aktif berkarya.
“Pesan almarhum memang seniman kebudayaan tulen, seorang seniman kebudayaan yang besar, matahari kebudayaan Indonesia yang menarik banyak orang di dalam lingkaran pada masa lalu, di tahun 70-an, 80-an, 90-an,” kata Once.
Menurut Once, pada masa kejayaan kreativitas di Jakarta, banyak pekerja seni dan orang-orang kreatif yang ingin mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi, belajar, dan berkarya bersama Guruh. Hal tersebut menunjukkan besarnya penghormatan yang diberikan komunitas seni terhadap dirinya.
“Di masa aktif-aktifnya beliau berkarya, hampir orang kreatif Jakarta, kalau mendapatkan kesempatan, akan merapat ke almarhum karena almarhum seorang yang sangat dihormati,” tuturnya.
Lebih jauh, Once menilai Guruh Soekarnoputra merupakan sosok seniman multidimensi. Kiprahnya tidak hanya terbatas pada musik, tetapi juga mencakup seni tari, fashion, serta berbagai bidang kreatif lainnya.
“Lebih hebat lagi, almarhum adalah seniman multidimensi. Berkarya musik, tapi juga seni tari, juga fashion. Almarhum sangat menguasai bidang-bidang itu,” jelasnya.
Once menyebut kemampuan Guruh menguasai berbagai cabang seni sebagai sesuatu yang unik dan tidak mudah ditemukan. Sosok seperti Guruh, menurutnya, merupakan bagian penting dari sejarah perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia.
“Mungkin sosok beliau juga multiartistik, atau orang yang menguasai berbagai jenisnya. Itu satu yang unik dan kita jarang temui,” pungkas Once Mekel.
Kepergian Guruh Soekarnoputra menjadi kehilangan besar bagi dunia seni dan kebudayaan Indonesia. Namun, karya, gagasan, serta jejak kreativitas yang telah ditinggalkannya diharapkan terus hidup melalui pementasan, pengkajian, dan regenerasi kepada generasi muda.
Warisan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang kebudayaan Indonesia yang perlu dijaga agar tetap dikenal dan diapresiasi dari generasi ke generasi.