Jakarta, – Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club dalam rangkaian Seminar Nasional bertajuk “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok” dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan kedua negara, khususnya melalui kerja sama antarmasyarakat, Selasa (15/9/2026) bertempat Hotel Borobudur, Jakarta.
Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok, Ambassador Dr. (H.C) Al Busyara Basnur, S.H., LL.M, menilai Global Civilization Initiative (GCI) yang diinisiasi Presiden Tiongkok Xi Jinping merupakan gagasan penting yang patut diapresiasi, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia dan Afrika.
Hal tersebut disampaikan Al Busyara Basnur saat ditemui awak media usai kegiatan Seminar Nasional dan Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, GCI memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar memperkuat hubungan antarnegara. Salah satu aspek penting yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana inisiatif tersebut dapat mendorong peningkatan people-to-people cooperation atau kerja sama antarmasyarakat.
“GCI ini adalah sebuah inisiatif yang sangat bagus, terutama untuk bangsa-bangsa dan negara-negara yang ada di Asia dan Afrika. Ini pantas kita berikan apresiasi kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping,” ujar Al Busyara.
Ia menjelaskan, dalam perspektif hubungan internasional, kerja sama antarpemerintah atau government to government memang memiliki peranan penting. Namun, berdasarkan pengalamannya sebagai diplomat karier selama hampir 40 tahun, hubungan antarmasyarakat justru memiliki kekuatan yang lebih panjang dan berkelanjutan.
“Bagi saya, dengan pengalaman sebagai diplomat karier hampir 40 tahun, justru hubungan antarmasyarakat, people to people connectivity, collaboration, cooperation, itu jauh lebih penting,” tegasnya.
Al Busyara menilai hubungan antarpemerintah memiliki batas waktu karena sangat bergantung pada masa jabatan para pemimpin dan pejabat pemerintahan. Pergantian presiden, perdana menteri, menteri maupun pejabat lainnya dapat membawa perubahan terhadap arah dan dinamika kerja sama antarnegara.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun masyarakat memiliki daya tahan yang jauh lebih panjang.
Ia menyebut sejumlah elemen masyarakat yang dapat menjadi penggerak hubungan antarmasyarakat, mulai dari pengusaha, akademisi, mahasiswa, media, tokoh seni, penulis hingga pembuat film.
“Kerja sama yang sudah dibangun oleh orang-orang ini sampai akhir hidup mereka, hubungan antarbangsa dan peranan mereka itu masih tetap eksis,” katanya.
Karena itu, Al Busyara melihat GCI sebagai peluang yang perlu ditangkap Indonesia untuk memperkuat politik luar negeri sekaligus diplomasi publik.
“Bagi Indonesia, politik luar negeri Indonesia, GCI yang diinisiasi oleh China ini harus kita ambil, harus kita tangkap sebagai satu peluang, terutama bagi politik luar negeri RI dan juga diplomasi publik Indonesia,” ungkapnya.
Generasi Muda Diminta Belajar Teknologi Tiongkok
Selain membahas hubungan antarmasyarakat, Al Busyara juga menyoroti tantangan teknologi yang dihadapi Indonesia di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, Indonesia harus realistis melihat perkembangan teknologi global. Ia mengakui bahwa dari sisi teknologi, Tiongkok saat ini berada jauh lebih maju dibandingkan Indonesia dalam berbagai bidang.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Indonesia untuk lebih aktif mempelajari perkembangan teknologi dari Tiongkok, termasuk melalui pendidikan, kunjungan, pertukaran pengetahuan dan kerja sama antarlembaga.
“Kita harus akui bahwa dari sisi teknologi, China atau Tiongkok jauh lebih maju daripada Indonesia. Saya meminta terutama generasi muda Indonesia, mahasiswa, pelajar, perbanyaklah belajar teknologi dari China,” tegasnya.
Pernyataan tersebut bukan tanpa pengalaman. Al Busyara mengungkapkan bahwa sejak ditunjuk sebagai Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok pada 1 Juni 2025, dirinya cukup sering melakukan kunjungan ke Tiongkok untuk melihat langsung perkembangan berbagai sektor.
Ia menyebut sepanjang periode tersebut dirinya mengunjungi berbagai tempat di Tiongkok, mulai dari sekolah, kampus hingga perusahaan.
“Tahun lalu, saya mulai ditunjuk bertugas sebagai Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia sejak 1 Juni 2025 sampai Desember 2025, setiap bulan saya ke China, mengunjungi berbagai tempat. Dan tahun ini juga hampir setiap dua bulan saya ke China,” tuturnya.
Dari berbagai kunjungan tersebut, ia mengaku melihat adanya kesenjangan perkembangan teknologi yang cukup jauh antara Indonesia dan Tiongkok.
“Saya masuk sekolah, masuk kampus, masuk perusahaan-perusahaan,” ujarnya.
Menurut Al Busyara, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi Indonesia, khususnya dalam menyiapkan generasi muda menghadapi target Indonesia Emas 2045.
Ia berharap hubungan Indonesia–Tiongkok tidak hanya berhenti pada hubungan diplomatik dan kerja sama pemerintah, tetapi berkembang menjadi jaringan kerja sama masyarakat yang kuat, berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata.
Melalui Indonesia Friends of Silk Road Club, ia berharap semakin banyak ruang yang terbuka bagi akademisi, pelajar, mahasiswa, pengusaha, media, seniman dan berbagai elemen masyarakat untuk membangun konektivitas Indonesia–Tiongkok.
Dengan demikian, semangat GCI dapat diterjemahkan ke dalam kerja sama nyata yang memperkuat pemahaman antarbangsa, memperluas pertukaran pengetahuan dan teknologi, serta membangun hubungan Indonesia–Tiongkok yang semakin erat dalam jangka panjang.