Bekasi – Warga RT/RW 02/01, Kelurahan Pekayon Jaya, mengeluhkan penutupan akses jalan akibat proyek Jembatan Kemang Pratama yang dinilai dilakukan tanpa sosialisasi langsung kepada masyarakat terdampak.
Meski spanduk pemberitahuan terpasang di sekitar lokasi, warga dan pelaku usaha mengaku tidak menerima penjelasan rinci terkait waktu pelaksanaan maupun durasi penutupan jalan tersebut.
Dani (59), pekerja usaha cuci mobil di sekitar proyek, mengungkapkan kekecewaannya, terlebih menjelang momentum Lebaran.
Seharusnya kasih tahu dulu. Ini mau Lebaran, kami yang punya keluarga bagaimana?” ujarnya dengan nada kesal.
Penutupan akses itu turut berdampak pada toko kelontong milik Ami serta bengkel motor milik Fadli. Keduanya mengaku mengalami penurunan omzet signifikan sejak jalan ditutup.
“Kita tidak tahu mulai kapan sampai kapan. Malah tahunya dari orang lain,” kata Ami.
Fadli bahkan memperkirakan potensi kerugian selama sembilan hari mencapai sekitar Rp9 juta akibat sepinya pelanggan.
Tak hanya pelaku usaha, pengemudi ojek online juga mengeluhkan harus memutar arah yang menambah waktu tempuh dan biaya operasional. Sejumlah pengendara terlihat nekat menerobos barikade, membuat petugas kewalahan mengatur arus lalu lintas.
Dampak penutupan jalan juga dirasakan siswa SDN Pekayon VI. Meski pihak sekolah telah memberikan pemberitahuan, beberapa siswa tetap datang terlambat karena harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh.
‘Anak saya jadi muter jauh dan datang terlambat,” keluh seorang orang tua murid.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak perhubungan maupun pelaksana proyek terkait detail jadwal pekerjaan dan estimasi waktu normalisasi akses jalan. Warga berharap ada komunikasi terbuka agar aktivitas ekonomi dan pendidikan tidak semakin terdampak.
