Depok — Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa meminta mahasiswa baru FEB UI berani mencoba, gagal, mengevaluasi diri, dan menemukan potensi terbaik.
Jatmiko menyampaikan pesan tersebut saat mengisi kuliah umum dalam rangka Orientasi Pengenalan Kampus mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).
Kegiatan itu berlangsung di lingkungan FEB UI, Depok, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dengan menghadirkan pengalaman praktis dunia industri.
Di hadapan ratusan mahasiswa, Jatmiko mengajak peserta tidak menjadikan nilai akademis sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama menjalani pendidikan tinggi.
Sebaliknya, ia mendorong mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk menguji kemampuan, memperluas pengalaman, dan menghadapi kegagalan secara sehat.
“Kampus adalah tempat yang paling aman untuk teman-teman semua bereksperimen. Manfaatkan empat tahun ini sebagai laboratorium,” ujar Jatmiko.
Menurut Jatmiko, lingkungan kampus memberikan ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk mencoba berbagai pilihan tanpa menghadapi konsekuensi profesional seperti pekerja.
Ia kemudian membandingkan kesalahan mahasiswa dengan kesalahan pekerja ketika memasuki lingkungan profesional yang memiliki tuntutan dan tanggung jawab lebih besar.
“Bikin salah di kampus tidak ada mutasi, tidak ada PHK, tidak dimarahi atasan, dan tidak dipotong gaji,” katanya.
Karena itu, Jatmiko meminta mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk membangun keberanian, mengasah kemampuan, serta memahami konsekuensi setiap keputusan.
Karier Tidak Selalu Berjalan Lurus
Jatmiko juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak anggapan bahwa perjalanan karier selalu mengikuti rencana secara lurus.
Ia membagikan pengalaman kariernya sebagai gambaran bahwa seorang profesional terkadang harus mengubah arah ketika menghadapi situasi baru.
Pengalaman tersebut semakin relevan dengan tanggung jawabnya memimpin PTPN IV PalmCo yang memiliki operasi luas di berbagai wilayah Indonesia.
Jatmiko menyebut perusahaan tersebut merupakan hasil merger lima perusahaan dan kini mengelola sekitar 600.000 hektare lahan sawit.
Perusahaan itu juga memiliki sekitar 70.000 karyawan yang bekerja dari Aceh hingga Sulawesi.
Menurut Jatmiko, kondisi tersebut menuntut pemimpin memahami karakter manusia, mengelola ekspektasi, dan beradaptasi dengan dinamika organisasi.
“Manusia kadang berpikir bahwa progres itu akan linier. Tapi tidak,” kata Jatmiko.
Ia menjelaskan bahwa seseorang terkadang harus mengambil arah berbeda menuju bidang yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam rencana karier.
“Kalau hari ini kalian belum tahu mau jadi apa, tidak usah khawatir,” ujarnya.
Karena itu, Jatmiko meminta mahasiswa terus melakukan evaluasi agar mereka mampu mengenali potensi dan menentukan arah pengembangan diri.
Ia juga mengungkapkan pengalaman ketika dirinya harus meredam ego dan kesombongan intelektual dalam perjalanan profesional.
Menurutnya, kemampuan memahami keberagaman karakter manusia menjadi modal penting dalam memimpin perubahan dan menyatukan budaya organisasi.
Bekal Menghadapi Dunia Kerja
Selain kemampuan akademis, Jatmiko menilai perusahaan membutuhkan talenta muda yang memiliki growth mindset dan kecerdasan emosional.
Ia menekankan bahwa kemampuan menerima hasil yang tidak sesuai harapan juga menunjukkan tingkat kematangan seseorang.
“Nilai berapapun atau hasil apapun yang kita terima dalam hidup ini, selama kita sudah berusaha dan berdoa dengan maksimal, terima saja,” tuturnya.
Menurut Jatmiko, hasil yang seseorang terima belum tentu sesuai keinginan, tetapi kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari proses yang diperlukan.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa membangun kebiasaan mengevaluasi keputusan dan belajar dari setiap pengalaman yang mereka jalani.
Jatmiko juga meminta mahasiswa memanfaatkan waktu kuliah untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas.
Ia menilai proses tersebut dapat membantu mahasiswa menghadapi perubahan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Pesan untuk Calon Pemimpin
Menjelang akhir kuliah umum, Jatmiko mengingatkan mahasiswa agar tidak terlalu cepat menentukan batas terhadap kemampuan dirinya.
Ia mengatakan mahasiswa dapat memilih jalur spesialis maupun generalis sesuai minat, kemampuan, serta kebutuhan karier masing-masing.
Namun, pilihan tersebut harus mereka imbangi dengan keterbukaan berpikir, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.
“Maksimalkan potensi kalian, optimalkan waktu yang ada,” kata Jatmiko.
Ia kemudian menekankan pentingnya menjaga sikap terbuka ketika mahasiswa menghadapi perubahan lingkungan maupun tantangan profesional.
“Tapi ingat, selalu buka pikiran (open mind) dan kerjakan semuanya secara persisten, konsisten, serta selalu pakai hati,” pungkasnya.
Kuliah umum tersebut mempertemukan pengalaman pimpinan industri dengan mahasiswa yang sedang memulai perjalanan akademiknya di FEB UI.
Interaksi itu memberi mahasiswa perspektif mengenai tantangan dunia kerja yang tidak seluruhnya dapat mereka temukan melalui pembelajaran di ruang kelas.
Melalui pengalaman tersebut, Jatmiko menegaskan bahwa keberhasilan profesional membutuhkan keberanian mencoba, kemampuan mengevaluasi diri, serta ketekunan menjalani proses.
Pesan itu sekaligus menempatkan kampus sebagai ruang strategis untuk membangun karakter, menguji kemampuan, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia profesional.