Bekasi – Publik belakangan dibuat geram setelah muncul pengakuan seorang mantan pegawai akuntansi yang mengungkap dugaan praktik markup dalam pengadaan kebutuhan dapur pada program MBG (Makan Bergizi Gratis).

Pengakuan tersebut memicu sorotan karena program yang seharusnya menjadi harapan masyarakat diduga justru dimanfaatkan sebagai ruang permainan anggaran oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Alif Nur Muhammad dari Pemuda LIRA Kota Bekasi menilai dugaan markup kebutuhan dapur tersebut bukan persoalan kecil. Menurutnya, praktik semacam itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap program kerakyatan.

“Ketika harga bahan pangan dimanipulasi dan kebutuhan dapur diduga di-markup, maka yang sebenarnya dirampas adalah hak masyarakat untuk mendapatkan makanan bergizi secara layak,” ujar Alif.
Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini semakin kritis dan mampu melihat berbagai program yang menggunakan uang rakyat.

Karena itu, dugaan penyimpangan dalam program sosial dinilai tidak bisa dibiarkan.
“Jika dugaan markup ini benar terjadi, maka itu sangat memalukan. Program yang membawa nama ‘makan bergizi’ tidak boleh berubah menjadi proyek memperkaya diri,” katanya.

Pemuda LIRA Kota Bekasi juga mendesak pemerintah untuk membuka secara transparan seluruh rantai pengadaan bahan dan kebutuhan dapur dalam program tersebut. Transparansi dinilai penting agar publik mengetahui secara jelas bagaimana anggaran negara digunakan.
Selain itu, Alif menegaskan bahwa jika terbukti terdapat permainan anggaran, maka seluruh pihak yang terlibat harus diproses secara hukum tanpa pandang bulu.

“Kami menegaskan, program yang lahir dari uang rakyat tidak boleh dipermainkan. Jangan sampai program yang seharusnya memberi makan masyarakat justru menjadi sarana ‘memakan anggaran negara’,” tegasnya.

Pemuda LIRA Kota Bekasi menyatakan akan terus mengawal isu ini hingga jelas dan terang, karena publik berhak mengetahui penggunaan setiap rupiah uang negara.