Jakarta, – HKBP Menteng menggelar Seminar Kebangsaan dengan tema “Keluarga Kuat, Bangsa Kuat: Terus Melayani dan Berdampak”, Sabtu (22/8/2026), bertempat di HKBP Menteng, Jakarta Pusat.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, keteladanan, pelayanan, serta meneguhkan peran keluarga dalam membentuk generasi muda Indonesia yang berkarakter, berintegritas, tangguh, dan memiliki semangat untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi, di antaranya Pdt. Sahat Manulang, Pendeta Resort HKBP Menteng; Pdt. Prof. Binsar Pakpahan; Prof. Angel Damayanti, Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI); serta David Manalu selaku moderator.

Dalam wawancara awak media, Prof. Angel Damayanti menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga yang tangguh dan resilien. Menurutnya, keluarga yang kuat akan melahirkan pribadi-pribadi yang kuat dan mampu membawa perubahan bagi bangsa dan negara.

“Perempuan di tengah keluarga memiliki peran penting untuk menghasilkan keluarga yang tangguh dan kuat. Dari keluarga yang kuat akan lahir orang-orang yang tangguh dan mampu membawa perubahan bagi bangsa dan negara,” ujar Prof. Angel.

Ia kemudian memperkenalkan empat prinsip yang menurutnya penting dimiliki perempuan agar mampu menjadi pribadi yang tangguh dan menjadi kekuatan bagi keluarga.

Pertama, prayer atau doa. Perempuan diharapkan menjadi tiang doa bagi keluarga, mendoakan anak-anak, suami, serta seluruh anggota keluarga.

Kedua, perseverance atau ketekunan. Ketekunan tidak hanya diwujudkan dalam kehidupan doa, tetapi juga dalam memberikan teladan dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.

Ketiga, presence atau kehadiran. Kehadiran seorang perempuan sangat penting ketika anggota keluarga menghadapi persoalan. Seorang ibu perlu hadir bagi anak ketika menghadapi masalah, begitu pula seorang istri memberikan dukungan kepada suami ketika menghadapi tantangan.

Sementara prinsip keempat menekankan pentingnya keteladanan dan keterikatan kepada Kristus sebagai sumber kekuatan dalam menjalankan peran.

Prof. Angel menegaskan bahwa perempuan tangguh bukan berarti harus mampu menghadapi segala sesuatu seorang diri.

“Panggilan Kristus bagi perempuan bukan menjadi wonder woman, tetapi untuk terus melekat kepada Kristus. Seperti ranting yang melekat pada pokok anggur, selama terus melekat, ia akan terus dapat berbuah,” tuturnya.

Menurutnya, peran perempuan juga tidak hanya berada di lingkungan keluarga. Perempuan memiliki ruang pengabdian yang luas, baik sebagai pendidik, dosen, profesional, maupun dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Karena itu, Prof. Angel juga menyoroti pentingnya memberikan akses dan kesempatan yang lebih luas bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan kapasitas diri, serta mendapatkan kesempatan bekerja dan berkontribusi dalam pembangunan.

Seminar Kebangsaan HKBP Menteng tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan institusi, tetapi juga dimulai dari keluarga.

Keluarga yang kuat, penuh kasih, memiliki nilai moral, keteladanan, serta semangat melayani diyakini menjadi fondasi penting dalam melahirkan generasi yang mampu menjaga persatuan, menghadapi tantangan zaman, dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia.

Melalui tema “Keluarga Kuat, Bangsa Kuat: Terus Melayani dan Berdampak”, HKBP Menteng mendorong seluruh peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman dan diskusi, tetapi menerjemahkan nilai-nilai kebangsaan dan pelayanan dalam tindakan nyata di tengah keluarga, gereja, masyarakat, serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keluarga kuat menjadi fondasi bangsa kuat. Dari keluarga, keteladanan dimulai; dari pelayanan, dampak nyata diwujudkan.