Jakarta, – Perkumpulan Keluarga Bugis Makassar menggelar pelantikan dan pengukuhan kepengurusan periode 2026–2031, Sabtu (19/9/2026). Momentum tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat silaturahmi, menjaga persatuan, serta meneguhkan komitmen keluarga besar Bugis-Makassar untuk terus melestarikan budaya dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah maupun bangsa.

Mengusung tema “Melangkah Bersama, Melestarikan Budaya, Membangun Daerah: Harmoni Bisa Sipakatau, Sipakainge/Sipakaigat”, kegiatan ini menjadi pijakan awal bagi kepengurusan baru untuk menjalankan roda organisasi secara solid, harmonis, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Bugis Makassar, Widyawati Farah Imelda, SE, mengatakan pelantikan dan pengukuhan kepengurusan bukan sekadar agenda organisasi atau pergantian kepengurusan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat tekad bersama dalam membangun organisasi yang guyub, terbuka, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pelantikan dan pengukuhan ini bukan sekadar pergantian atau penetapan kepengurusan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat tekad bersama dalam membangun organisasi yang terbuka, guyub, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Widyawati.

Menurutnya, keluarga besar Bugis-Makassar memiliki kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Namun, pelestarian budaya juga perlu berjalan beriringan dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

Karena itu, kepengurusan periode 2026–2031 diharapkan mampu menghadirkan berbagai program yang tidak hanya memperkuat ikatan kekeluargaan, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan meneruskan warisan budaya Bugis-Makassar.

“Melangkah bersama, menjaga budaya, mempererat persaudaraan, dan berkontribusi untuk daerah menjadi semangat yang diharapkan terus tumbuh dalam perjalanan kepengurusan periode 2026–2031,” katanya.

Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakaigat Jadi Landasan Kebersamaan

Nilai-nilai budaya Bugis-Makassar menjadi salah satu landasan penting dalam kehidupan organisasi. Semangat Sipakatau mengajarkan pentingnya saling memanusiakan dan menghargai sesama, sementara Sipakainge/Sipakaigat mengandung pesan untuk saling mengingatkan, menjaga kepedulian, serta mempererat hubungan antarsesama.

Nilai tersebut dinilai relevan untuk menjadi pedoman dalam membangun organisasi yang harmonis. Perbedaan latar belakang, profesi, maupun generasi diharapkan tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.

Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan untuk memperluas kontribusi organisasi di tengah masyarakat.

Melalui kepengurusan baru, Perkumpulan Keluarga Bugis Makassar juga diharapkan semakin mampu menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang kolaborasi bagi keluarga besar Bugis-Makassar dalam berbagai bidang.

Jaga Identitas Budaya, Perkuat Kontribusi bagi Daerah

Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, pelestarian budaya menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, keberadaan organisasi masyarakat berbasis kekeluargaan dan budaya dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas sekaligus memperkuat solidaritas.

Kepengurusan periode 2026–2031 diharapkan dapat terus menghidupkan berbagai kegiatan yang memperkenalkan budaya Bugis-Makassar, mempererat hubungan antarkeluarga, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, Perkumpulan Keluarga Bugis Makassar diharapkan semakin solid dan mampu menjadi bagian dari kekuatan masyarakat dalam menjaga keharmonisan, melestarikan warisan leluhur, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa.

Pelantikan kepengurusan periode 2026–2031 pun menjadi awal dari perjalanan baru: melangkah bersama, menjaga budaya, mempererat persaudaraan, dan membangun daerah dalam semangat harmoni.