Tujuh puluh enam tahun sudah Majelis Pendidikan Kristen (MPK) melakoni peran pelayanannya di Indonesia. Lahir tak lama berselang sejak terbentuknya pemerintahan Republik Indonesia, MPK bertransformasi menjadi bagian penting dari perjalanan dunia pendidikan kristen di Tanah Air.
Sebagai ungkapan syukur atas pertambahan usianya, perayaan HUT ke-76 MPK dilaksanakan secara sederhana dengan dihadiri oleh sejumlah perwakilan mitra. Rangkaian perayaan dibuka dengan seminar pendidikan yang dibawakan oleh Ketua Umum MPK Handi Irawan. D, M.BA., M. Com, dan Ketua Umum Sinode Gereja Toraja Pdt. Dr. Alfred. Y. R. Anggui, M.Th, di gedung GKI Bungur, Jakarta Pusat, Jumat sore (5/6).
Handi membuka seminar dengan bahasan seputar “Bagaimana Tren Sekolah Kristen di Masa Mendatang (Tahun 2030)?”. Sejumlah faktor kunci yang dipredisksi akan menjadi pemicu penurunan jumlah sekolah kristen di dalam negeri diulas secara mendalam oleh figur yang kini juga dipercaya sebagai Anggota Dewan Pendidikan Nasional, itu.
Menurut pengamatannya tantangan sekolah kristen dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian utama meliputi kenaikan jumlah sekolah kristen dengan kategori A dan A plus, penurunan jumlah sekolah kristen dengan kategori D dan E, serta tren penurunan jumlah sekolah kristen milik sinode gereja. Di sisi lain tren ini diiringi oleh meningkatnya jumlah sekolah kristen yang dimiliki oleh pengusaha.
Tak berhenti sampai di situ, Handi lalu mengungkap tantangan krusial yang datang dari internal kekristenan di mana ketersediaan guru kristen berkualitas akan semakin turun sehingga berdampak langsung terhadap mutu dunia pendidikan kristen itu sendiri.
Muaranya, lanjut Handi, jumlah siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah kristen akan mengalami kemerosotan tajam, dan ini turut berdampak langsung terhadap pewartaan injil terhadap umat kristen itu sendiri.
Ia kemudian mengajak segenap pemangku kepentingan mempersiapkan langkah terukur untuk membantu sekolah kristen dalam menghadapi tantangan sulit di masa mendatang itu. Sebab, lanjutnya, keberadaan sekolah kristen memiliki peranan yang signifikan terhadap keberlangsungan penginjilan di lingkup internal umat.
“Bagaimana kita bisa menginjili kalau sekolah kristen tidak mendapatkan siswa?” tanya Handi kepada para pengurus mitra MPK.
Di materi kedua Pdt. Alfred Anggui membagikan pengalamannya dalam mendorong kembali eksistensi sekolah kristen yang berada di bawah naungan Sinode Gereja Toraja.
Dari rangkaian persidangan gerejawi dan pertemuan dengan lembaga-lembaga mitra gereja, Alfred menyadari bahwa kelangsungan sekolah–khususnya sekolah kristen–adalah bagian penting dari misi menjaga masa depan gereja.
“Ruang yang paling nyata saat ini untuk memastikan bahwa gereja memiliki masa depan itu adalah sekolah,” tegasnya.
Berangkat dari kegelisahan ini Alfred kemudian berkisah bagaimana sinode berjuang di tengah masifnya minat para orang tua murid untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah negeri maupun sekolah swasta non kristen. Keadaan ini makin terasa berat akibat kebutuhan operasional biaya pendidikan yang semakin tinggi untuk menjalankan sebuah sekolah kristen.
Tetapi ikhtiar Alfred untuk membangkitkan kembali sekolah kristen yang terpuruk di wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara menemui titik terang saat ia berkesempatan untuk mengunjungi langsung tanah Papua. Di wilayah yang terisolir dan tersembunyi di atas pegunungan tinggi, Alfred menyaksikan bagaimana para guru kristen tulus mendidik anak-anak Papua dengan dukungan sistem manajemen yang baik.
Sepulangnya dari Papua dan atas masukan dari tokoh pendidikan kristen, James Riady, Pendeta Alfred Anggui lalu melakukan gebrakan dengan menginisiasi program “Pilot Project Sekolah Transformasi” dengan dukungan subsidi dana yang bersumber dari kas sinode. Ia pun merestrukturisasi sistem pengelolaan keuangan dan operasional sekolah lalu memulai transformasi sebuah sekolah kristen yang terletak di tengah kota.
“Kesulitan lain yang kami temui saat itu adalah mencari tujuh guru awal, namun akhirnya kami bisa memenuhi kebutuhan guru untuk memulai kegiatan belajar-mengajar,” jelas Alfred.
Perlahan tapi pasti masyarakat Toraja menunjukan sambutan positif terhadap keberadaan sekolah transformasi ini. Dengan tingginya keterisian bangku belajar sekolah ikut mendapatkan manfaat ekonomi untuk menunjang operasional bulanan hingga dimampukan untuk membangun beragam fasilitas penunjang kegiatan belajar dan mengajar. Puncaknya, sekolah dinyatatan mandiri secara finansial dan sinode bisa memanfaatkan dukungan kas gereja untuk membangun sekolah transformasi di sejumlah wilayah lainnya.
“Total saat ini sudah ada empat belas sekolah yang kami operasikan,” ujar Alfred Anggui disambut tepukan apresiasi dari para mitra MPK.
Usia Bukan Sekedar Angka
Dalam sebuah renungan firman hari ulang tahun yang dibawakan oleh Pdt. Cordelia Gunawan, M. Th, MPK diingatkan tentang pencapaian usia 76 tahun sekaligus tema “Transformasi” yang tengah diusungnya saat ini. Cordelia meminta agar MPK dan para mitra bertanya kepada diri mereka sendiri apakah sekolah kristen hadir di tengah masyarakat selalu melibatkan peran serta Tuhan, atau sekedar mengenakan embel-embel kata “Kristen” di kelembagaannya.
Menurut Cordelia, tugas yang tak kalah penting bagi MPK saat ini adalah mengorkestrasi para lembaga mitra mereka untuk bersama-sama mewujudnyatakan keteladan Kristus di tengah-tengah sekolah kristen di Indonesia.
“Membawa sekolah kristen agar membawa orang-orang di dalamnya untuk mengalami pertumbuhan iman,” kata Pendeta Cordelia.
Menutup renungannya Pendeta Cordelia meyakini misi transformasi yang selalu digaungkan akan menemui jalannya, selama MPK dan segenap pemangku kepentingan berusaha dengan sekuat tenaga dan memiliki keyakinan teguh akan penyertaan Tuhan ketika melewati masa sulit.
“Mari kita lihat bapak, ibu, dan saudara, sejauh mana sekolah kristen menjalankan tugasnya, menjalankan kepercayaannya, menjalankan sesuatu yang Tuhan embankan dengan baik. Dan mungkin yang harus dilakukan sekolah-sekolah kristen kalau mau ‘sembuh’ adalah menemukan Yesus,” tandas Pendeta Cordelia.
Sederhana Namun Bermakna
Puncak perayaan HUT 76 MPK dirayakan secara sederhana. Acara diisi penampilan tarian tradisional yang dibawakan oleh siswi kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar Kristen Saint John, Jakarta Pusat.
Rangkaian dilanjutkan dengan peniupan lilin ulang tahun yang dipimpin Handi Irawan. Turut mendampingi Handi Wakil Ketua Umum MPK Dr. Drs. Jopie. J. A. Rory, S.H., M.H. Perayaan turut dihadiri mitra MPK seperti Direktur Pendidikan Kristen mewakili Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Dr. Suwarsono, S. PAK., M. M, perhimpunan pengusaha kristen, hingga perwakilan Associaton Christian School International.
Di pencapaian usia 76 tahun MPK harapan juga datang dari kalangan tenaga pendidik yang berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa dan generasi muda gereja, melalui sekolah kristen.
Putri Inda Ade Keraf (31), mewakili para guru kristen se-Indonesia turut menitipkan harapan dan doanya atas capaian usia MPK kali ini.
“Saya bersyukur atas pelayanan MPK selama 76 tahun. Harapan saya, MPK terus menjadi (pemimpin) tranformasi bagi sekolah-sekolah Kristen di Indonesia agar menjadi unggul sehingga melahirkan generasi yang takut akan Tuhan, serta membantu para pendidik bertumbuh,” harap guru dari Sekolah Kristen Saint John, ini.
