Jakarta, – Polemik mengenai keberlangsungan investasi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali disuarakan di depan Gedung DPR RI. Andip, salah satu mitra SPPG dari Kalimantan Utara, menyampaikan keresahan para mitra yang menurutnya telah mengeluarkan modal pribadi dalam jumlah besar untuk membangun dapur guna mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), (8/10/2026).

Dalam orasinya, Andip menegaskan bahwa para mitra dari berbagai daerah sejak awal bersedia membangun dapur, termasuk di wilayah pelosok dan daerah yang secara geografis jauh dari pusat pemerintahan.

“Kami diminta untuk membangun dapur di daerah pelosok-pelosok negeri. Kami diminta dalam waktu sekitar 35 hari dapur ini sudah siap. Kami mengikuti dan menjalankan apa yang diminta,” ujar Andip dalam orasinya.

Namun, menurut Andip, persoalan muncul setelah para mitra mengeluarkan modal dan membangun fasilitas yang dibutuhkan. Ia menyebut dana yang digunakan berasal dari sumber pribadi, termasuk tabungan dan pinjaman.

“Apa yang terjadi sampai hari ini? Sudah berapa lama dapur ini berdiri? Uang kami yang keluar miliaran rupiah berasal dari dana pribadi, dari tabungan kami, bahkan dari hutang perbankan dan pinjaman lainnya,” tegasnya.

Andip mengatakan, para mitra pada awalnya memiliki keyakinan bahwa keterlibatan mereka merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah. Ia bahkan menyebut para mitra merasa terpanggil untuk ikut menyukseskan program yang menjadi perhatian pemerintah.

“Kami berhutang untuk membantu program Bapak Prabowo, untuk mensukseskan program ini. Kami adalah pejuang Merah Putih yang ingin ikut berbuat dan berkorban untuk program negara,” katanya.

Dalam orasinya, Andip juga mengungkapkan kekecewaan karena menurutnya para mitra justru menghadapi stigma negatif di tengah masyarakat. Ia menilai ada anggapan bahwa mitra SPPG merupakan pihak yang mengambil keuntungan dari uang negara.

“Kita hari ini dikucilkan oleh masyarakat Indonesia. Kita dianggap manusia yang rakus, manusia yang makan uang rakyat. Padahal kita hadir di sini menuntut hak kita,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa modal yang digunakan untuk membangun dapur, menurut keterangannya, merupakan uang pribadi dan dana pinjaman, bukan uang negara.

“Uang kita, uang pribadi kita. Bukan uang negara yang kita pakai. Kita diminta membangun dapur menggunakan uang pribadi, menggunakan uang pinjaman,” ujarnya.

Andip menyatakan aksi di depan Gedung DPR RI dilakukan sebagai upaya menyampaikan aspirasi dan meminta perhatian negara terhadap persoalan yang dihadapi para mitra.

“Kita terus rapatkan barisan. Kita berjuang dengan hak kita. Kita minta kepada negara hari ini untuk bertanggung jawab atas program yang diberikan kepada kita,” tegasnya.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut satu atau dua mitra, tetapi dirasakan oleh mitra yang datang dari berbagai wilayah Indonesia.

Andip juga menggambarkan tekanan yang dihadapi para mitra akibat kewajiban pembayaran pinjaman yang telah digunakan untuk pembangunan dapur.

“Bagaimana kami mau pulang ke daerah kami? Kami ditagih. Kami diminta pertanggungjawaban atas uang yang kami pinjam untuk membangun dapur. Kami sudah ditelepon, sudah ditagih untuk mengembalikan uang yang telah kami pinjam,” katanya.

Di hadapan massa aksi, Andip berharap para anggota DPR RI dapat mendengar langsung persoalan yang disampaikan para mitra SPPG dari berbagai daerah.

“Kami hadir dari seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Semoga anggota dewan yang duduk di kursi perwakilan rakyat dapat mendengarkan aspirasi kita pada hari ini,” pungkasnya.

Aspirasi tersebut menjadi bagian dari tuntutan para mitra agar terdapat kejelasan mengenai keberlanjutan kerja sama, kepastian terhadap investasi yang telah dikeluarkan, serta tanggung jawab atas berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program di lapangan.