Jakarta, – Kisah pilu disampaikan Leni, salah seorang investor pembangunan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Tango Prango, Toraja. Dalam wawancara dengan awak media, Leni mengungkapkan bahwa dirinya terjun menjadi investor setelah mendapat dorongan dan iming-iming dari pihak yang disebutnya sebagai Satgas terkait keuntungan serta insentif dalam program tersebut,(6/10/2026).
Leni mengaku pada awalnya tidak memiliki niat untuk mengelola dapur MBG. Namun, setelah mendapatkan penjelasan mengenai skema program dan percepatan pembangunan, dirinya akhirnya memberanikan diri mengeluarkan modal, termasuk menggunakan dana pinjaman dari bank.
“Saya itu mau jadi investor karena disuruh pemerintah. Kita diiming-imingi Satgas, katanya keuntungannya sekian, ada insentif. Karena kita ini pejuang Merah Putih, kita juga mau bertindak dan berkorban untuk kampung kita sendiri dengan adanya MBG ini,” ungkap Leni.
Menurut Leni, keputusan tersebut diambil karena dirinya percaya bahwa program MBG merupakan program pemerintah yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi.
Ia kemudian mengumpulkan dana dan mengambil pinjaman bank untuk membiayai pembangunan dapur. Leni mengatakan, dirinya terdorong untuk mempercepat pembangunan setelah mendapat informasi bahwa proses tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 35 hari.
“Saya sebenarnya awalnya tidak ada niat mengelola MBG. Tapi karena Satgas bilang 35 hari, kita percepat. Saya berpikir, kalau begitu saya ambil uang dari bank. Selain uang di bank, saya kumpulkan uang yang ada untuk pembangunan ini,” tuturnya.
Namun, harapan tersebut berubah menjadi beban berat. Leni mengaku hingga kini dirinya menghadapi persoalan utang kepada bank maupun para pekerja yang terlibat dalam pembangunan dapur.
Ia mengatakan, tagihan dari para pekerja terus datang, sementara kewajiban pembayaran pinjaman bank juga harus dipenuhi setiap bulan.
“Sampai sekarang saya masih ditagih-tagih oleh tukang yang mengerjakan bangunan ini. Setiap bulan saya juga menunggak bank. Saya sampai dikata-katai oleh tukang-tukang yang sudah membangun dapur,” ujarnya.
Persoalan tersebut, kata Leni, tidak hanya berdampak terhadap kondisi ekonominya, tetapi juga memukul kondisi keluarganya. Ia menyebut suaminya yang sebelumnya masih dalam kondisi relatif sehat kini mengalami berbagai gangguan kesehatan.
“Yang paling menyakitkan, gara-gara persoalan ini suami saya yang sebelumnya sehat-sehat saja sekarang tambah sakit. Suami saya sekarang kena tekanan darah tinggi, gula, dan herpes. Kondisinya sudah komplikasi,” ungkapnya dengan nada haru.
Leni menuturkan tekanan ekonomi dan persoalan utang yang dihadapinya selama berbulan-bulan turut memperburuk kondisi psikologis keluarganya.
“Selama lima bulan ini, karena terus ditagih-tagih oleh tukang, suami saya mulai jatuh sakit dan sekarang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bagaimana saya mau membawa dia masuk rumah sakit, sementara saya sendiri tidak tahu bagaimana membiayainya,” katanya.
Dua Dapur Siap Operasional
Di tengah persoalan tersebut, Leni menegaskan bahwa pembangunan yang dilakukannya bukan sekadar rencana. Ia menyebut telah membangun dua dapur yang menurut keterangannya sudah 100 persen siap untuk beroperasi.
“Satu dapur itu biayanya kurang lebih Rp1,5 miliar. Saat ini dua dapur sudah 100 persen siap operasional,” jelasnya.
Dengan investasi yang telah dikeluarkan, Leni memperkirakan total kerugiannya mencapai sekitar Rp3 miliar.
Namun, Leni mengatakan bahwa dirinya kini tidak lagi memprioritaskan keuntungan dari program MBG. Harapannya jauh lebih sederhana, yakni mendapatkan kembali modal yang telah dikeluarkan sehingga dapat menyelesaikan berbagai kewajiban yang membebaninya.
“Saya tidak mengharapkan lagi keuntungan. Saya mau uang saya dibalikin, supaya hutang-hutang saya beres. Itu saja. Karena suami saya sedang sakit parah dan saya tidak tahu bagaimana lagi membiayainya,” tegas Leni.
Meminta Pemerintah Memperhatikan Nasib Investor
Leni berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memperhatikan kondisi para investor yang telah mengeluarkan modal untuk mendukung pelaksanaan program MBG.
Ia menilai para investor juga memiliki keluarga, kewajiban finansial, serta risiko yang harus ditanggung ketika pembangunan dapur dilakukan dengan menggunakan modal pribadi maupun pinjaman.
“Kita juga mau berkorban untuk kampung kita sendiri. Kita percaya kepada pemerintah. Tetapi apa yang terjadi sekarang, kami merasa seperti negara bertindak sewenang-wenang terhadap kami para investor,” katanya.
Leni meminta adanya solusi nyata terhadap persoalan yang dialami para investor, terutama mereka yang telah menyelesaikan pembangunan dapur tetapi belum memperoleh kepastian mengenai pengembalian modal maupun kelanjutan operasional.
“Saya hanya ingin pemerintah melihat penderitaan kami. Negara tahu tidak bagaimana penderitaan saya dan teman-teman investor lainnya? Kami ini juga manusia, kami punya keluarga dan punya hutang yang harus dibayar,” pungkasnya.
Kesaksian Leni menjadi salah satu gambaran mengenai persoalan yang dihadapi sebagian investor pembangunan dapur MBG. Ia berharap pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) dapat memberikan kepastian, solusi, serta perlindungan bagi investor yang telah mengeluarkan modal untuk mendukung program tersebut.