MEDAN — Maraknya pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Utara tidak lagi sekadar persoalan kehilangan hasil panen. Di sejumlah wilayah sentra perkebunan, kejahatan tersebut berkembang menjadi aksi terorganisir yang kerap disertai ancaman kekerasan.
PTPN IV PalmCo menilai tingginya peredaran narkoba menjadi salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya tindak kriminal tersebut.
Fenomena pencurian sawit tidak hanya menyasar perkebunan besar milik perusahaan, tetapi juga kebun rakyat yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Di berbagai desa penghasil sawit, hilangnya buah menjelang masa panen menjadi persoalan serius karena berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi keluarga petani.
Arman (54), petani sawit di Kabupaten Langkat, mengaku kebunnya berulang kali menjadi sasaran pencurian. Menurutnya, setiap tandan buah yang hilang memiliki nilai penting bagi keberlangsungan hidup keluarganya.
Saya ini petani kecil. Produksi kebun tidak banyak. Ketika buah yang siap panen dicuri, dampaknya langsung terasa terhadap ekonomi keluarga. Pernah saya kesulitan membeli pupuk karena hasil panen berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi,” ujarnya.
Ia menambahkan, para pelaku kini semakin berani dan diduga bekerja secara terorganisir.
“Kalau melihat polanya, pencurinya terorganisir. Kadang ketika ketahuan mereka berani mengancam menggunakan senjata. Kondisi ini sangat menakutkan bagi petani,” katanya.
Selain menyebabkan kerugian ekonomi, pencurian juga merusak produktivitas kebun dalam jangka panjang. Pelaku kerap memanen buah secara sembarangan tanpa mengikuti standar budidaya sehingga berdampak pada hasil panen berikutnya.
“Dampaknya panjang. Bukan hanya rugi saat ini, tetapi produksi beberapa bulan ke depan juga terganggu karena pencuri memanen tanpa aturan,” ujar Arman.