Jakarta, – PT Shenhua Guohua Pembangkitan Jawa Bali (PLTU Jawa 7) menegaskan komitmennya untuk terus membangun hubungan baik dan memperkuat jejaring dengan para pelaku usaha di sektor ketenagalistrikan. Hal tersebut disampaikan Harry Purnomo dalam ajang MKI Electricity Connect 2026, Rabu (23/9/2026).

Dalam wawancara dengan awak media, Harry Purnomo mengatakan kehadiran PLTU Jawa 7 dalam kegiatan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk berinteraksi dan membangun hubungan dengan para pelaku industri ketenagalistrikan lainnya.

“Memang tujuan kami di sini ingin berinteraksi dengan para pelaku usaha di bidang ketenagalistrikan. Kami ingin bertemu dengan para pelaku usaha yang lain, tidak ada agenda khusus. Murni ingin berinteraksi dengan teman-teman pelaku usaha lainnya, terutama di bidang tenaga listrik,” ujar Harry.

Menurutnya, sebagai salah satu operator pembangkit listrik di Indonesia, menjaga hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan di sektor ketenagalistrikan menjadi hal penting. Interaksi antar pelaku usaha dinilai dapat membuka ruang pertukaran informasi, pengalaman, sekaligus mengikuti perkembangan industri yang terus berubah.

“Sebagai salah satu operator pembangkit di Indonesia, kami ingin menjaga hubungan baik dengan para pelaku usaha di bidang ketenagalistrikan,” katanya.

Harry menjelaskan, PT Shenhua Guohua Pembangkitan Jawa Bali merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangkitan tenaga listrik dan memiliki keterkaitan dengan PLN Group. Dalam pengelolaannya, perusahaan juga menjalin kerja sama dengan mitra dari China.

Ia juga menyoroti keunggulan teknologi yang diterapkan pada PLTU Jawa 7. Menurutnya, pembangkit tersebut menggunakan teknologi yang dinilai memiliki tingkat efisiensi tinggi dan menjadi salah satu pembangkit dengan teknologi maju yang telah beroperasi di Indonesia.

“PLTU Jawa 7 ini merupakan salah satu pembangkit yang teknologinya sudah efisien dan cukup unggul dibandingkan pembangkit lainnya di Indonesia. Sampai dengan hari ini kami masih berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi yang maksimal kepada PLN dan secara umum kepada Indonesia,” jelasnya.

Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat, Harry mengakui bahwa perkembangan tersebut pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap berbagai sektor industri, termasuk ketenagalistrikan.

Namun demikian, ia menilai perubahan teknologi tidak boleh menjadi alasan bagi industri untuk berhenti beradaptasi.

“Pasti berdampak, tetapi kami tentunya punya strategi. Kita tidak boleh menyerah dari situ. Kita tetap berusaha dengan memaksimalkan atau mengoptimalkan anggaran yang ada agar dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Menurut Harry, perkembangan teknologi justru perlu diikuti dengan kemampuan perusahaan dalam melakukan adaptasi dan optimalisasi sumber daya. Hal tersebut penting agar industri pembangkitan tetap mampu menjaga kinerja sekaligus menjawab kebutuhan energi Indonesia.

Selain membahas perkembangan industri, Harry juga memberikan perhatian terhadap pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam memahami dunia ketenagalistrikan secara lebih luas.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami aspek teknis pembangkitan listrik. Mereka juga perlu mengenal bagaimana sebuah bisnis pembangkitan dijalankan, bagaimana proses pengembangan proyek dilakukan, hingga bagaimana kerja sama dengan pihak asing dibangun.

Ia berharap kegiatan seperti MKI Electricity Connect 2026 dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat industri ketenagalistrikan dan para pemain di dalamnya.

“Harapannya mereka bisa lebih mengetahui skema bisnis, peralatan-peralatan pembangkit dan lain sebagainya. Mulai belajar mengetahui siapa saja pemainnya, bagaimana teknologi yang sudah diadopsi, serta mengikuti perkembangan teknologi yang ada,” tutur Harry.

Menurutnya, pengenalan tersebut secara perlahan dapat menumbuhkan ketertarikan mahasiswa untuk mendalami bidang ketenagalistrikan secara lebih spesifik.

“Sedikit demi sedikit mereka bisa menimbulkan rasa ketertarikan, sehingga ke depannya bisa lebih spesifik mengejar ilmu-ilmu yang terkait dengan ketenagalistrikan,” tambahnya.

Harry menegaskan bahwa kebutuhan tenaga profesional di sektor ketenagalistrikan ke depan tidak hanya terbatas pada kemampuan teknis. Ketika Indonesia ingin terus mengembangkan pembangkit listrik, dibutuhkan pula sumber daya manusia yang memahami aspek perencanaan bisnis, pengembangan proyek, hingga kerja sama dengan mitra internasional.

“Sekarang ini ketenagalistrikan tidak hanya masalah teknis saja. Kalau Indonesia ingin mengembangkan pembangkit listrik, tentunya perencanaan bisnis, pengembangannya, kemudian masalah kerja sama dengan pihak asing juga perlu ilmu,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan ke dalam dunia kerja dan industri secara nyata.

“Ilmu yang didapatkan di tempat perkuliahan perlu diterapkan untuk bisa terjun langsung ke dunia nyata,” pungkas Harry.