Jakarta, – Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Andryan Nur Alam, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengawal tata kelola sektor hilir minyak dan gas bumi (migas), pada hari Selasa (28/7/2026) bertempat Koat Coffee Menteng Jakarta Pusat, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri Diskusi Nasional Penguatan Tata Kelola Hilir Migas dalam Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional bertajuk “Peran Strategis Generasi Muda Menuju Indonesia 2045.”

Dalam wawancara dengan awak media, Andryan menyampaikan bahwa PB PMII memandang forum diskusi ini sebagai ruang strategis untuk memperkuat sinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dalam mencari solusi atas berbagai persoalan yang masih terjadi di sektor hilir migas.

“PB PMII meyakini bahwa dengan terjalinnya sinergi yang baik bersama BPH Migas, kita dapat mengidentifikasi berbagai celah sekaligus persoalan yang selama ini terjadi dalam penyaluran bahan bakar minyak. Selama ini, persoalan yang paling sering muncul berada di sektor hilir, sehingga dibutuhkan ruang dialog untuk menemukan solusi yang konkret,” ujar Andryan.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan berbagai temuan di sejumlah daerah, masih banyak masyarakat yang menghadapi kendala dalam distribusi dan akses terhadap bahan bakar. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius agar BPH Migas dapat hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat.

“Melalui diskusi ini, kami berharap berbagai persoalan yang terjadi di lapangan dapat dijawab dengan kebijakan yang tepat. Jangan sampai persoalan yang terus berulang hanya menjadi catatan tanpa ada evaluasi dan penyelesaian yang nyata,” tegasnya.

Andryan juga menekankan bahwa generasi muda perlu memahami isu hilir migas karena dampaknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketersediaan energi, khususnya bahan bakar minyak, berpengaruh langsung terhadap mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga produktivitas nasional.

“Ketika bahan bakar menjadi langka, mobilitas masyarakat akan terganggu. Aktivitas bekerja, belajar, maupun kegiatan ekonomi ikut terdampak. Karena itu, generasi muda harus memiliki pemahaman yang baik mengenai tata kelola migas agar mampu memberikan kontribusi dalam mengawal kebijakan energi nasional,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai diskusi nasional ini menjadi jembatan yang mempertemukan mahasiswa, pemerintah, regulator, dan pelaku industri migas untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam mewujudkan sistem energi yang adil, transparan, dan berkelanjutan.

“Harapan kami, seluruh pemangku kepentingan tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi benar-benar menghadirkan langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Kolaborasi yang kuat akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan energi nasional sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045,” pungkas Andryan.