Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) melalui Wakil Menterinya Mugiyanto Sipin mengungkapkan sekitar 122 ribu pengungsi internal di Papua hingga kini masih membutuhkan penanganan dan penyelesaian secara komprehensif akibat konflik yang berkepanjangan.
Wamen Mugiyanto mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan lebih rinci mengenai persebaran para pengungsi. Data tersebut akan dibahas bersama sejumlah kementerian dan lembaga dalam rapat koordinasi yang akan segera digelar.
“Kami akan mengadakan pertemuan koordinasi agar penanganan pengungsi menjadi lebih komprehensif. Selama ini persoalan pengungsi juga telah ditangani oleh Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” kata Mugiyanto di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Libatkan Sejumlah Kementerian
Mugiyanto menjelaskan rapat koordinasi akan melibatkan Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, koordinasi lintas kementerian diperlukan agar kebutuhan para pengungsi dapat ditangani secara menyeluruh, mulai dari aspek perlindungan, kesehatan, pendidikan, hingga layanan sosial.
Ia menambahkan, para pengungsi internal umumnya meninggalkan kampung halaman karena kehilangan rasa aman akibat konflik yang terjadi di wilayah mereka.
“Pemerintah akan memastikan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi,” ujarnya.
Konflik Papua Kembali Memakan Korban Sipil
Sebagai informasi, situasi keamanan di Papua kembali memburuk dalam sebulan terakhir dengan jatuhnya korban dari kalangan sipil. Pada 2 Juli 2026, seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau (31) meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya setelah terkena peluru dalam kontak senjata antara aparat keamanan dan TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Di hari yang sama, pilot asal Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, tewas setelah pesawat yang diterbangkannya ditembak dan kemudian dibakar oleh TPNPB-OPM di Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Pemerintah menyatakan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan penanganan pengungsi berjalan optimal, di tengah upaya menjaga keamanan dan melindungi warga sipil di wilayah Papua. [nfl]