Kota Bekasi, – Ketua Umum Sahabat MUI Kota Bekasi, Ustadz Ismail Ibrahim, mengajak umat Islam untuk semakin bijak dalam menyikapi derasnya arus informasi di media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus diimbangi dengan sikap kritis dan kewaspadaan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi maupun propaganda, Kamis (24/9/2026).

Hal tersebut disampaikan Ustadz Ismail Ibrahim saat menghadiri Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) “Sikap Umat Islam dalam Menghadapi Ancaman Disinformasi dan Propaganda melalui Media Sosial”.

Dalam keterangannya kepada awak media, Ustadz Ismail menekankan pentingnya menerapkan prinsip tabayun sebagaimana ajaran Islam ketika menerima sebuah informasi.

“Yang pertama, kita jalankan aturan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu tabayun. Cek dan ricek, dicek ulang, dianalisis ulang setiap berita yang masuk. Kemudian, kalau memang harus di-share, setelah itu baru di-share,” ujar Ustadz Ismail.

Ia menilai, masyarakat saat ini berada dalam sebuah kondisi di mana media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya menghindari media sosial, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk menyikapi berbagai informasi secara bijaksana.

“Karena memang hari ini, sebagaimana tadi diinformasikan, kita sedang bertempur di dunia maya. Ini memang sudah menjadi garis kehidupan kita. Harus kita hadapi dan harus kita bijak menyikapinya. Kita tidak boleh menyalahkan, karena media yang begitu masif ini memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita,” jelasnya.

Menurut Ustadz Ismail, salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan masyarakat adalah membangun kewaspadaan sebelum menerima, mempercayai, maupun menyebarkan informasi.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak secara tidak sadar ikut menyebarkan informasi yang justru dapat merugikan orang lain atau memicu persoalan baru di tengah masyarakat.

“Langkah kita yang paling konkret adalah menghadirkan kewaspadaan. Jangan sampai kita mengerjakan PR orang lain,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Ismail mengajak seluruh peserta seminar dan masyarakat Kota Bekasi untuk bersama-sama menjaga kerukunan. Ia menilai, perbedaan pandangan di ruang digital jangan sampai berkembang menjadi konflik sosial di kehidupan nyata.

“Untuk peserta yang hadir dan semuanya, terlebih khusus masyarakat Kota Bekasi, mari kita jaga kerukunan. Antisipasi berita-berita dari orang-orang yang menginginkan Bekasi tidak kondusif, apalagi sampai membuat umat Islam berpecah belah,” katanya.

Ia berharap masyarakat semakin dewasa dalam menggunakan media sosial dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, tabayun, serta semangat persatuan.

Ustadz Ismail menegaskan bahwa menjaga kondusivitas Kota Bekasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama, tetapi membutuhkan peran seluruh elemen masyarakat. Terlebih di tengah derasnya arus informasi digital yang dapat menyebar dalam waktu sangat cepat.

“Insyaallah Bekasi, umat Islam, serta bangsa Indonesia akan mengarah kepada kebaikan dan persatuan,” pungkasnya.