Jakarra, – Semangat perjuangan para pendiri bangsa kembali dihidupkan melalui Napak Tilas Proklamasi 2026, Kirab Jejak Juang Bangsa, dengan mengambil rute bersejarah dari Museum Joang 45 menuju Tugu Proklamasi, pada hari Minggu (16/8/2026). Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan, tetapi menjadi momentum untuk mengingat kembali rangkaian peristiwa yang mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Salah satu tokoh yang turut memberikan pandangan dalam kegiatan tersebut, Bhakti Dewanto, S.H., M.H, menjelaskan bahwa pemilihan rute Museum Joang 45 hingga Tugu Proklamasi memiliki makna sejarah yang sangat kuat.

Dalam wawancara dengan awak media, Bhakti mengatakan rute tersebut berupaya menghadirkan kembali jejak perjalanan sejarah yang berkaitan erat dengan proses menuju pembacaan Proklamasi Kemerdekaan.

“Napak tilas itu maksudnya mengulang kembali sejarah. Rute ini menggambarkan perjalanan perjuangan para tokoh bangsa menjelang Proklamasi,” ujar Bhakti.

Ia menjelaskan, menjelang Proklamasi terjadi dinamika yang sangat kuat antara kelompok pemuda dengan Soekarno-Hatta. Para pemuda saat itu mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.

Menurutnya, desakan tersebut lahir dari keinginan kuat agar kemerdekaan Indonesia benar-benar merupakan hasil perjuangan bangsa sendiri, bukan dianggap sebagai pemberian Jepang.

Peristiwa tersebut kemudian berlanjut dengan dibawanya Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok oleh para pemuda. Setelah melalui berbagai pembicaraan, keduanya akhirnya kembali ke Jakarta.

Rangkaian sejarah itu kemudian berlanjut pada proses perumusan naskah Proklamasi hingga akhirnya Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945.

“Karena itu, ketika kita melakukan napak tilas dari Museum Joang 45 menuju Tugu Proklamasi, sebenarnya kita sedang mencoba mengingat kembali perjalanan sejarah tersebut. Ini bukan sekadar kirab, tetapi bagaimana generasi sekarang memahami apa yang terjadi menjelang lahirnya Indonesia merdeka,” jelasnya.

Menghidupkan Kembali Nilai Perjuangan

Bhakti juga menyoroti kondisi nilai-nilai perjuangan bangsa yang menurutnya perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Ia menilai, ketika semangat kebangsaan mulai kehilangan makna, masyarakat tidak bisa hanya menyalahkan generasi muda. Generasi yang lebih tua, termasuk para pemimpin dan pejabat, memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan keteladanan.

“Kalau kita ingin nilai-nilai perjuangan tetap hidup, yang paling penting adalah memberikan contoh. Jangan hanya menyuruh generasi muda untuk berjuang, tetapi para pejabat dan orang-orang yang diberikan amanah juga harus memberikan teladan,” tegasnya.

Menurut Bhakti, tantangan bangsa saat ini telah mengalami perubahan. Jika dahulu bangsa Indonesia menghadapi penjajahan secara langsung, kini salah satu tantangan serius yang harus dihadapi adalah korupsi.

“Kalau dulu musuh kita adalah penjajah, sekarang salah satu musuh besar bangsa adalah koruptor. Bukan soal suku, ras atau dari mana dia berasal. Kita sudah sepakat bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Yang menjadi masalah adalah ketika ada orang yang merusak negara melalui korupsi,” katanya.

Ia menilai korupsi dapat menggerus berbagai hasil pembangunan dan membuat anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat menjadi tidak optimal.

Karena itu, menurutnya, pemberantasan korupsi harus menjadi perhatian bersama agar cita-cita para pendiri bangsa tidak berhenti hanya sebagai sejarah.

Dukung Pemerintah, Dorong Penguatan Orang-Orang Kredibel

Dalam kesempatan tersebut, Bhakti juga menyampaikan dukungannya terhadap pemerintahan saat ini. Namun, ia berharap pemerintah terus memperkuat jajaran dengan orang-orang yang memiliki kredibilitas, integritas dan kemampuan untuk membantu menjalankan pemerintahan.

“Kita mendukung pemerintah, apalagi Presiden. Tetapi tentu harus memilih orang-orang yang kredibel di sekelilingnya, orang-orang yang benar-benar bisa membantu dan menjaga pemerintahan,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai persoalan yang dapat menghambat jalannya pemerintahan.

“Jangan sampai terlambat. Kita harus menjaga rumah kita sendiri. Kalau kita tahu ada masalah tetapi dibiarkan, pada akhirnya yang dirugikan adalah kita sendiri dan masyarakat,” tambahnya.

Napak Tilas Bukan Sekadar Seremonial

Bhakti berharap Napak Tilas Proklamasi 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus mampu menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus refleksi bagi seluruh masyarakat.

Menurutnya, perjalanan dari Museum Joang 45 menuju Tugu Proklamasi menjadi simbol penting bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui proses panjang, perdebatan, keberanian, pengorbanan dan tekad para pejuang.

“Jangan sampai generasi muda hanya tahu bahwa tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan. Mereka juga harus memahami bagaimana kemerdekaan itu diperjuangkan. Dari situlah nilai perjuangan bisa kembali tumbuh,” pungkas Bhakti.

Melalui Kirab Jejak Juang Bangsa, semangat perjuangan para pendiri bangsa diharapkan dapat terus diwariskan. Sebab, menjaga kemerdekaan bukan hanya dengan mengenang sejarah, tetapi juga dengan menerapkan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.