Jakarta – Peluncuran dan Bedah Buku “HAJI: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan” karya KH. Fahmi Salim, Lc., MA., mendapat perhatian dari Datoh Indra, Dewan Pembina Institute Fahmu. Ia menilai buku tersebut memiliki arti penting, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang setiap tahunnya menjadi salah satu negara dengan jumlah jamaah haji yang besar, Senin (28/9/2026).
Menurut Datoh Indra, karya KH. Fahmi Salim yang dikenal sebagai ahli tafsir Al-Qur’an tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai ibadah haji, tetapi juga dapat menjadi bahan renungan bagi umat Islam untuk memahami makna dan nilai yang terkandung di balik pelaksanaan ibadah haji.
“Buku haji yang kesekian kalinya karya Ustaz Fahmi Salim ini sangat penting. Beliau adalah ahli tafsir Al-Qur’an yang kemudian menuangkan pemikirannya dalam buku ini dengan bentuk yang baik,” ujar Datoh Indra dalam kegiatan Peluncuran dan Bedah Buku “HAJI: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan”.
Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai koleksi di rak perpustakaan atau hanya dibaca sesaat. Lebih jauh, Datoh Indra berharap isi buku dapat direnungkan dan diterapkan dalam kehidupan, terutama oleh umat Islam yang melaksanakan ibadah haji.
“Begitu banyak jamaah haji Indonesia, mungkin salah satu yang terbesar setiap musim haji. Mudah-mudahan buku ini tidak hanya sekadar dibaca, bukan sekadar menjadi koleksi, tetapi menjadi buku yang dibaca, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan, terutama dalam berhaji,” katanya.
Datoh Indra juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menghadirkan karya-karya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Atas nama yayasan, tentu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah dengan segala kemampuan membantu terselenggaranya acara ini,” ungkapnya.
Selain itu, Datoh Indra berharap karya-karya KH. Fahmi Salim yang berada di bawah naungan Institute Fahmu ke depan tidak hanya diterbitkan dalam bentuk buku cetak, tetapi juga dikembangkan dalam format digital seperti e-book dan audiobook.
Menurutnya, transformasi ke format digital dapat menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan sekaligus mendorong budaya membaca di tengah kesibukan masyarakat.
“Kami berharap karya-karya Ustaz Fahmi Salim di bawah Institute tidak hanya dalam bentuk cetak, tetapi juga dalam bentuk digital, dalam bentuk e-book, sehingga lebih mudah dibaca dan diamalkan,” tuturnya.
Datoh Indra menilai perkembangan teknologi memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk mengakses buku dan kajian keislaman tanpa terbatas tempat dan waktu. Bahkan, format digital memungkinkan masyarakat menikmati materi bacaan maupun kajian sambil menjalankan berbagai aktivitas.
“Ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan budaya baca. Karena mungkin rendahnya minat baca disebabkan kesibukan dan berbagai keadaan. Gagasannya adalah bagaimana buku-buku Institute bisa dicetak dalam bentuk e-book,” jelasnya.
Ia juga menilai format audio dapat menjadi alternatif yang bermanfaat, termasuk bagi masyarakat lanjut usia. Dengan adanya audiobook, masyarakat dapat mendengarkan kajian atau isi buku tanpa harus selalu membaca teks secara langsung.
“Ini mudah-mudahan juga bermanfaat bagi para lansia. Format seperti ini sudah banyak diterapkan di negara-negara maju. Jadi sambil dalam perjalanan, sambil dalam kegiatan, masyarakat dapat mendengarkan buku-buku dan kajian Ustaz Fahmi Salim,” pungkas Datoh Indra.
Peluncuran dan Bedah Buku “HAJI: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan” diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah agenda peluncuran karya, tetapi menjadi momentum untuk memperluas pemahaman umat mengenai makna ibadah haji. Buku tersebut diharapkan mampu menjadi jembatan antara pengetahuan, perenungan, dan pengamalan nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari.