Jakarta, – Pemerintah bersama para pemangku kepentingan resmi meluncurkan program Youth Ultra-Micro Entrepreneurship Empowerment (YUME) dan Entrepreneurial Skill Development Fund (ESDF), pada hari Kamis (11/6/2026) bertempat Coworking Space, Menara Bappenas Lantai Dasar
Jl. HR Rasuna Said Kav. B2, Karet Setiabudi, Jakarta Selatan, sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi serta mendorong kemandirian generasi muda Indonesia melalui kewirausahaan.
Program ini dirancang untuk membekali para wirausaha muda dan pelaku usaha ultra mikro dengan berbagai dukungan penting, mulai dari inkubasi bisnis, peningkatan keterampilan kewirausahaan, literasi keuangan, hingga akses terhadap pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Kehadiran YUME dan ESDF diharapkan menjadi katalis bagi lahirnya lebih banyak pelaku usaha yang tangguh, produktif, dan berdaya saing.
Dalam sambutan penutup acara, Riya Farwati, S.E., M.SE., MA, Sekretaris Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian diskusi dan pemaparan dalam kegiatan tersebut memberikan inspirasi serta pembelajaran yang mendalam mengenai semangat kewirausahaan dan pentingnya kolaborasi dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
“Saya terbawa emosi yang sangat positif sepanjang kegiatan ini. Dari kisah seorang ibu yang memulai usaha demi bertahan hidup hingga berhasil menjadi wirausaha yang mapan, sampai refleksi yang disampaikan melalui puisi yang mengingatkan kita bahwa perjuangan dan cita-cita harus terus diperjuangkan. Semua itu mempertegas bahwa negara dan pemerintah akan terus hadir untuk mendampingi para wirausaha, khususnya pemuda, perempuan, dan pelaku usaha ultra mikro,” ujar Riya.
Menurutnya, peluncuran YUME dan ESDF menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan peningkatan produktivitas ekonomi. Program ini membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelompok sasaran untuk memperoleh keterampilan, pendampingan usaha berkelanjutan, peningkatan literasi keuangan, hingga akses pasar yang lebih kompetitif.
Riya menegaskan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan modal, tetapi juga oleh kapasitas dan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnisnya.
“Pembiayaan dan pelatihan adalah dua pilar yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Modal ibarat bahan bakar untuk menjalankan kendaraan, sementara pelatihan adalah kemampuan mengemudi agar kendaraan tersebut dapat mencapai tujuan dengan selamat dan sukses,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya komitmen bersama dari seluruh pihak yang terlibat, mulai dari kementerian dan lembaga pemerintah, sektor keuangan, mitra pembangunan, hingga perwakilan pemuda dan pelaku UMKM. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Melalui YUME dan ESDF, pemerintah juga menargetkan terjadinya transformasi usaha ultra mikro agar mampu naik kelas menjadi usaha yang lebih produktif, memiliki daya tahan yang kuat, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Tujuan kita bukan hanya membantu usaha naik kelas, tetapi memastikan usaha tersebut tetap bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Karena itu, pembiayaan yang diberikan tidak semata-mata untuk modal kerja, melainkan juga menjadi instrumen peningkatan kapasitas usaha dan mitigasi risiko melalui pelatihan kewirausahaan,” katanya.
Peluncuran YUME dan ESDF menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperluas akses kesempatan ekonomi bagi generasi muda dan kelompok rentan, sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dengan menggabungkan dukungan pembiayaan dan pengembangan kapasitas, program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak wirausaha unggul yang siap menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
“Harapannya, bukan hanya usahanya yang semakin maju, tetapi kapasitas dan kualitas para pelaku usahanya juga semakin berkembang. Ketika usaha tumbuh, pengetahuan bertambah, dan keterampilan meningkat, maka dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat dan perekonomian Indonesia secara luas,” tutup Riya Farwati.